Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Syair


Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak . Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab. Penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan karyanya, antara lain:
Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir.
Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud).
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
Ciri-ciri syair :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab

Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)

Jenis-jenis syair
Menurut isinya, syair dapat dibagi menjadi lima golongan, sebagai berikut.
1. Syair Panji
Syair panji menceritakan tentang keadaan yang terjadi dalam istana dan keadaan orang-orang yang berada atau berasal dari dalam istana.
Contoh syair panji adalah Syair Ken Tambuhan yang menceritakan tentang seorang putri bernama Ken Tambuhan yang dijadikan persembahan kepada Sang Ratu Kauripan.
2. Syair Romantis
Syair romantis berisi tentang percintaan yang biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat, maupun cerita rakyat. Contoh syair romantis yakni Syair Bidasari yang menceritakan tentang seorang putri raja yang telah dibuang ibunya. Setelah beberapa lama ia dicari Putra Bangsawan (saudaranya) untuk bertemu dengan ibunya. Pertemuan pun terjadi dan akhirnya Bidasari memaafkan ibunya, yang telah membuang dirinya.
3. Syair Kiasan
Syair kiasan berisi tentang percintaan ikan, burung, bunga atau buahbuahan.
Percintaan tersebut merupakan kiasan atau sindiran terhadap peristiwa tertentu. Contoh syair kiasan adalah Syair Burung Pungguk yang isinya menceritakan tentang percintaan yang gagal akibat perbedaan pangkat, atau seperti perumpamaan “seperti pungguk merindukan bulan”.
4. Syair Sejarah
Syair sejarah adalah syair yang berdasarkan peristiwa sejarah.
Sebagian besar syair sejarah berisi tentang peperangan. Contoh syair sejarah adalah Syair Perang Mengkasar (dahulu bernama Syair Sipelman), berisi tentang perang antara orang-orang Makassar dengan Belanda.
Syair berbahasa Arab yang tercatat paling tua di Nusantara adalah catatan di batu nisan Sultan Malik al Saleh di Aceh,
bertarikh 1297 M.
5. Syair Agama
Syair agama merupakan syair terpenting. Syair agama dibagi menjadi empat yaitu:
(a) syair sufi,
(b) syair tentang ajaran Islam,
(c) syair riwayatcerita nabi,
(d) syair nasihat.


Minggu, 06 Mei 2012

Pengertian Novel


Dari sekian banyak bentuk sastra seperti esei, puisi, novel, cerita pendek, drama, bentuk novel, cerita pendeklah yang paling banyak dibaca oleh para pembaca. Karya– karya modern klasik dalam kesusasteraan, kebanyakan juga berisi karya– karya novel.

Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya serius dan karya hiburan. Pendapat demikian memang benar tapi juga ada kelanjutannya. Yakni bahwa tidak semua yang mampu memberikan hiburan bisa disebut sebagai karya sastra serius. Sebuah novel serius bukan saja dituntut agar dia merupakan karya yang indah, menarik dan dengan demikian juga memberikan hiburan pada kita. Tetapi ia juga dituntut lebih dari itu. Novel adalah novel syarat utamanya adalah bawa ia mesti menarik, menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang habis membacanya.

Novel yang baik dibaca untuk penyempurnaan diri. Novel yang baik adalah novel yang isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Sebaliknya novel hiburan hanya dibaca untuk kepentingan santai belaka. Yang penting memberikan keasyikan pada pembacanya untuk menyelesaikannya. Tradisi novel hiburan terikat dengan pola – pola. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa novel serius punya fungsi social, sedang novel hiburan Cuma berfungsi personal. Novel berfungsi social lantaran novel yang baik ikut membina orang tua masyarakat menjadi manusia. Sedang novel hiburan tidak memperdulikan apakah cerita yang dihidangkan tidak membina manusia atau tidak, yang penting adalah bahwa novel memikat dan orang mau cepat–cepat membacanya.

Banyak sastrawan yang memberikan yang memberikan batasan atau definisi novel. Batasan atau definisi yang mereka berikan berbeda-beda karena sudut pandang yang mereka pergunakan juga berbeda-beda. Definisi – definisi itu antara lain adalah sebagai berikut :
1. Novel adalah bentuk sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak dicetak dan paling banyak beredar, lantaran daya komunitasnya yang luas pada masyarakat (Jakob Sumardjo Drs).
2. Novel adalah bentuk karya sastra yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya social, moral, dan pendidikan (Dr. Nurhadi, Dr. Dawud, Dra. Yuni Pratiwi, M.Pd, Dra. Abdul Roni, M. Pd).
3. Novel merupakan karya sastra yang mempunyai dua unsur, yaitu : undur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang kedua saling berhubungan karena sangat berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra (Drs. Rostamaji,M.Pd, Agus priantoro, S.Pd).
4. Novel adalah karya sastra yang berbentuk prosa yang mempunyai unsur-unsur intrinsic (Paulus Tukam, S.Pd)


Jumat, 04 Mei 2012

Cara menulis Cerpen


Cerita Pendek (Cerpen)
  • Cerita pendek adalah karangan berbentuk kisahan yang bersifat naratif dan imajinatif, hanya berisi satu ide, satu situasi atau kejadian, berpusat pada satu tokoh dominan sehingga terkesan tunggal yang jumlah katanya antara 500 sampai dengan 10.000. Jadi cerpen itu dari sisi lembaran berkisar antara 3 sampai 20 halaman. Dari sisi penokohan hanya satu tokoh yang dominan. Tokoh yang lain hanyalah memperjelas tokoh sentral sehingga semakin memperdominan tokoh sentral.

    Tujuan penulisan cerpen
    Semua kegiatan penulisan didasari tujuan yang ingin disampaikan penulisnya. Untuk karangan berbentuk cerpen, tujuan penulisannya adalah menyalurkan persoalan hidup manusia yang seringkali membebani pikiran baik orang lain ataupun penulisnya sendiri..
    Begitu banyaknya persoalan manusia yang dihadapi dalam hidupnya, maka cerpen akan memberikan peluang sebanyak persoalan yang ada. Persoalan yang dianggap membebani hampir semua manusia dalam kehidupannya seperti: cinta yang selalu melekat pada manusia sepanjang usianya, maut, tragedi, harapan, kekuasaan, loyalitas, tujuan, makna hidup, serta hal-hal yang transendental di dalam kehidupan manusia.

    Cara menulis cerpen:
    Temukan ide dari sejumlah persoalan yang Anda pikirkan. Menemukan ide memang tidak mudah tetapi tidak sesulit yang Anda bayangkan. Anda dapat menemukan ide itu melalui cara berikut:
    1. Tuliskan semua hal, yang Anda alami dan yang menjadi bahan pikiran Anda yang banyak dan berserakan di atas kertas.
    1. Urutkanlah semua yang telah Anda tuliskan tersebut berdasarkan tingkat kepentingan dan Anda tahu pemecahannya. Letakkanlah urutan tertinggi bagi yang paling memenuhi kriteria penting tadi.
    2. Jika itu suatu masalah, pikirkan pula apa solusinya
    3. Tuliskan kata kunci dari butir–butir yang telah Anda pilih di atas untuk dijadikan bahan tulisan
    4. Usahakan kata kunci yang Anda pilih adalah yang menurut Anda memiliki kesan positif
  • Contoh:
    1. Misalnya Anda terkesan pada seseorang disebabkan ketekunannya. Ia hanya ingin menjadi seorang yang mandiri, bekerja keras, dan mampu mengembangkan usaha dengan berbagai masalah yang dihadapi.
    2. Mengisi waktu dengan berbagai aktivitas
    3. Senang menuntut ilmu meskipun untuk itu banyak rintangan yang menghadangnya.
    Dari ketiga pengalaman berkesan itu kita tarik kata kuncinya yaitu:
    1. Hidup mandiri /tidak tergantung pada orang lain
    2. Mencari ilmu sepanjang hidup
    3. Manfaatkan waktu
    Kita coba mencari tokoh siapa yang akan kita jadikan tokoh ini. Misalnya kita beri nama tokoh ini Chairul Azam. Beri karakter sesuai kesan Anda pada ketiga kata kunci tadi misalnya: pekerja keras, cekatan, dan mudah empati. Tentukan tema cerpen yang akan Anda tulis itu apakah remaja, dewasa, anak-anak, atau manula. Tentukan profesi tokoh tersebut, apakah pendidik, pedagang, pegawai, ustad, petani, atau profesi lainnya. Dalam menentukan profesi sebaiknya bidang yang sangat Anda ketahui, karena Anda akan selalu berkisah dengan dunia yang akrab dengan Anda. Demikian pula dengan ketentuan latar
    2. Susunlah ide tersebut dengan meramunya berdasarkan bahan-bahan yang seharusnya telah kita miliki sebagai layaknya sebuah bangunan yaitu:
    · pengalaman
    · imajinasi
    · nilai, dan
    · tokoh
    Ramulah semua yang telah Anda dapatkan pada butir 1 dengan jalinan cerita yang diuraikan dengan kata-kata memikat dengan menempatkan latar yang sesuai dan bertema. Hal tersebut bertujuan agar latar membantu tokoh dalam menjelasgambarkan kepada pembaca.

    Sumber:bse  

    Sabtu, 28 April 2012

    Tips menulis novel


    Banyak sekali orang mencari tips bagaimana menulis novel. Sebenarnya tidak perlu cara khusus untuk bisa menulis novel yang terpenting kalau menurut saya, "membuat suatu karya adalah sebuah imajinasi dari sebuah kreativitas jadi tulis saja apa yang ada di kepala kita"

    Banyak orang yang salah tujuan dalam membuat novel. Mungkin benar seandainya kita membuat novel nantinya pasti ingin kita terbitkan dan kenyataan yang harus dihadapi kalau menerbitkan sebuah novel itu ternyata susah dan buat pemula pasti sering menyerah dan berputus asa ketika karyanya tidak lolos seleksi penerbit.

    Ok kita tinggalkan dulu pembahasan tadi. Bila kalian yang membaca ini adalah seorang penulis amatir yang baru belajar membuat novel, satu hal yang perlu kalian ingat "Jangan menulis novel untuk penerbit" maksudnya banyak sekali orang bermimpi menghasilkan sebuah novel yang bisa diterbitin dan membuat kita menjadi langsung terkenal. Bermimpi seperti itu boleh saja tapi harus diingat bahwa kenyataannya kalian masih "pemula". Dalam kenyataan tidak ada kesuksesan yang instan butuh sebuah latihan berkali-kali bahkan sering gagal itu adalah suatu kewajaran.

    Saya tidak akan membahas secara teknik penulisan yang mudah dalam membuat novel karena saya sendiri bukan atau bisa dibilang juga tidak ngerti dengan EYD atau bagaimana menulis yang baik.

    Langsung saja ini tips dari saya buat kalian yang ingin bisa membuat novel (bukan tips membuat novel yang langsung terkenal) :
    1. Menulislah untuk orang yang kalian sayang, misalkan orang tua atau pacar atau sahabat kalian. Seperti yang saya bilang tadi jangan menulis untuk penerbit karena karya yang hebat itu terlahir dari sebuah niat tulus dari pembuatnya, contohnya Laskar pelangi yang awal niatnya hanya untuk hadiah gurunya, malah menjadi buming seperti sekarang. Sebenarnya intinya bukan itu sih, ketika kita membuat karya untuk orang yang kita sayangi maka kita akan memiliki sebuah power tambahan untuk bisa menyelesaikan karya novel kita, karena membuat novel itu butuh kesabaran, komitmen menyelesaikan dan terus berpikir kreatif untuk menemukan ide-ide baru sehingga novel yang kita buat nantinya bisa baik.
    2. Tulislah apa yang ada dipikiran kalian, jangan memikirkan apakah ide yang muncul di kepala itu bagus atau tidak. Kalau ada ide langsung tulis, baru kalau sudah selesai cerita yang kita buat, kita lakukan revisi dan pengeditan.
    3. Tetap komitmen untuk menyelesaikan novel kita. Jujur pengalaman saya membuat novel pendek sepanjang 130 halaman butuh waktu empat bulan dan pada bulan pertama novel yang saya buat terhapus dari laptop dan parahnya lagi data filenya tidak bisa direcovery akhirnya buat lagi dari awal. Karena saat itu saya membuat novel itu untuk hadiah cewek yang saya suka jadi mau gak mau harus diselesaikan. Singkat cerita novel itu jadi.
    4. Nah setelah cerita novel yang kita buat jadi lalu apakah harus berhenti begitu saja? Banyak penulis pemula yang setelah menyelesaikan novelnya berhenti pada tahap ini, sebenarnya hal ini adalah sebuah kesalahan. Kenapa?

    Setelah selesai menulis pasti berencana untuk menerbitkannya. lalu karya itu dikirim ke penerbit dan parahnya novel ditolak lalu kecewa dan membuat novel lagi! Oya setelah selesai menulis sebaiknya kalian jadikan novel yang kalian tulis ini menjadi sebuah buku, maksudnya? Jadikan benar-benar buku seperti novel yang dijual di toko dan kalian harus membuat sendiri mulai dari desain covernya, ngeprint dan kalau jilidnya minta tolong ke tukang fotokopi biar bagus. Apa gunanya? Kalau boleh saya bilang itu sangat berguna menjadikan novel yang kita tulis menjadi sebuah buku. Banyak yang putus asa membuat novel karena mereka tidak mendapatkan hasil yang nyata. Ketika kita menjadikan novel yang kita buat dalam sebuah buku kita akan merasakan sebuah hasil yang nyata dan terlihat walaupun masih belum bisa lolos seleksi penerbit. Kita akan memiliki kumpulan novel-novel kitayang tersimpan rapi dirak buku dan akan membuat kita bangga dan percaya diri untuk menulis lagi dan ketika kita bisa menyelesaikan satu tulisan maka kemampuan kita akan bertambah dan karya yang tercipta selanjutnya akan lebih sempurna lagi.


    Kamis, 26 April 2012

    Pengertian Ejaan dan Sejarah Ejaan di Indonesia


    Ejaan merupakan kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf/serta penggunaan tanda baca. Tiap negara mempunyai aturan ejaan tersendiri dalam melambangkan bunyi-bunyi bahasa di negaranya).Sejarah mencatat ada 6 sejarah ejaan yang pernah dikenal di Indonesia. Dari enam ejaan tersebut, 3 ejaan pernah diberlakukan bahkan salah satunya tetap dipakai sampai saat ini (EYD), dan 3 ejaan lainnya belum sempat diterapkan atau dipakai di Indonesia karena berbagai faktor.
    Tiga ejaan yang pernh dipakai di Indonesia adalah sebagai berikut:

    1.Ejaan Van Ophuysen
    Ejaan Van Ophusyen adalah ejaan pertama yang dikenal mulai berlaku pada tahun 1901. Ejaan tersebut dikenal dengan Ejaan Bahasa Melayu dengan huruf latin. Van Ophusyen merancang ejaan itu dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan Van Ophuysen adalah sebagai berikut:
    a. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
    b. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
    c. Tanda diakritik, seperti koma ain, hamzah dan tanda trema,untuk
    menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', dinamai'.
    d. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya
    harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai.
    Juga digunakan untuk menulis huruf yseperti dalam Soerabaïa.

    2. Ejaan Republik
    Pada tanggal 19 Maret 1947, Mr. Soewandi yang pada saat menjabat sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Republik Indonesia meresmikan ejaan baru yang dikenal dengan Ejaan Republik. Beberapa lambang yang
    tampak pada Ejaan Republik tersebut adalah sebagai berikut:
    a.Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru,umur, dsb.
    b.Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak,
    rakjat, dsb.
    c.Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-
    barat2-an.
    d.Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata
    yang mendampinginya.

    3. Ejaan yang Disempurnakan
    Dalam Komite Bersama yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri, dan Menteri Pelajaran Malaysia, Hussen Onn, pada tahun 1972 rancangan tersebut disetujui untuk dijadikan bahan dalam usaha bersama di dalam pengembangan bahasa nasional kedua negara.Setelah rancangan itu akhirnya dilengkapi di dalam Seminar Bahasa Indonesia di Puncak pada tahu 1972, dan diperkenalkan secara luas oleh sebuah panitia antardepartemen (Ida Bagus Mantra, Ketua dan Lukman Ali, Ketua Kelompok Teknis Bahasa) yang ditetapkan dengan surat keputusan Menteri pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20 Mei 1972, No. 03/A.I/72, maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan tahun itu juga diresmikanlah aturan ejaan yang baru itu berdasarkan keputusan Presiden No. 57, tahun 1972, dengan nama Ejaan yang Disempurnakan.Ejaan yang Disempurnakan adalah ejaan yang dipakai sampai sekarang.

    Selasa, 24 April 2012

    Hubungan makna antar kata


    Hubungan makna antar kata dapat berwujud :
    sinonim, antonim, homonim, homograf, homofon, polisemi, hiponim dan hipernim (superordinat).

    Sinonim
    Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna sama atau hampir sama..
    Contoh:
    a. Yang sama maknanya: sudah - telah, sebab – karena
    b. Yang hampir sama maknanya : untuk - bagi - buat - guna, cinta -
    ....kasih – saying

    Antonim
    Antonim adalah kata-kata yang berlawanan makna.
    Contoh:
    besar x kecil ibu x bapak
    kurus x gemuk, kuat x lemah
    jauh x dekat, tinggi x rendah
    buruk x baik, bodoh x pintar

    Homonim
    Homonim ialah dua kata atau lebih yang ejaan dan lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda.
    Contoh:
    buku 1 : buku kaki/tangan ' tulang sendi' buku 2 : buku tulis 'kitab'

    Homograf
    Homografadalah kata-kata yang sama ejaannya, tetapi ucapan dan artinya berbeda..
    Contoh:
    mental 1 : mental dari sepeda 'terpelanting' mental 2 : mental
    ...............baja 'batin, jiwa'

    Homofon
    Homofon adalah kata-kata yang ucapannya sama, tetapi ejaan dan artinya berbeda.
    Contoh:
    sangsi : tidak sangsi 'ragu-ragu, bimbang' sanksi : tidak ada sanksinya
    ............'tindakan, hukuman'

    Polisemi
    Polisemi adalah satu kata yamg memiliki makna banyak.
    Contoh:
    a. Didik jatuh dari sepeda.
    b. Harga gabah jatuh. 'merosot'
    c. Setiba di rumah dia jatuh sakit. 'menjadi'
    d. Dia jatuh dalam ujian. 'gagal'

    Hiponim dan Hipernim
    Hiponim adalah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi superordinat / hipernim (kelas atas), sedangkan hipernim adalah sebaliknya..
    Contoh:.
    Kata bunga merupakan superordinat, sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan, dan sebagainya merupakan hiponimnya.



    Sumber: Kosakata Bahasa Indonesia, Soedjito

    Senin, 23 April 2012

    Jenis Kata Ulang


    Keraf (1984: 120) membagi kata ulang (reduplikasi) menjadi empat bagian :
    a. Kata ulang dengan perubahan suku awal
    Contoh :
    - tanam-tanaman à tetanaman (BI)
    - talet-taletan à tetaletan (bahasa Sasak)
    - batur-baturan à bebaturan (BSDN)
    b. Kata ulang dengan perubahan seluruh (utuh) (Dwilingga)
    Contoh :
    - buah à buah-buah (BI)
    - rumah à rumah-rumah (BI)
    - kanak à kanak-kanak (BSDN)
    - batu à batu-batu (BSDN)
    c. Kata ulang dengan perubahan bunyi pada satu fonem atau lebih.
    Contoh :
    - gerak-gerik à gerak-gerik (BI)
    - sayur-mayur à Sayur-mayur (BI)
    - maling-maling à maling-malang (BSDN)
    d. Kata ulang berimbuhan
    Contoh :
    - main-main à bermain-main (BI)
    - kuda-kuda à kuda-kudaan (BI)
    - rebut-rebutan à berebut-berebutan (BSDN)
    - gilir-giliran à begilir-giliran (BSDN)

    Ahli lain, Kridalaksana (1983: 143) membagi kata ulang (reduplikasi) menjadi delapan bagian :
    a. Kata ulang (reduplikasi) antisipatoris, yakni reduplikasi yang terjadi karena pemakai bahasa mengantisipasikan bentuk yang diulang ke depan.
    Contoh : tembak - menembak
    b. Kata ulang (reduplikasi) fonologis, yakni pengulangan unsur-unsur fonologis (fonem, suku kata, kata).
    Contoh : laki-laki à lelaki (BI)
    c. Kata ulang (reduplikasi) grammatikal, yakni pengulangan fungsional dari suatu bentuk dasar (mencakup morfologi dan sintaksis).
    Contoh : besar à membesar-besarkan (BI)
    putar à memutar-mutar (BI)
    d. Kata ulang (reduplikasi) idiomatis, yakni kata ulang yang maknanya tidak dapat dijabarkan dari bentuk yang diulang.
    Contoh : mata-mata à bukan pengulangan kata mata dengan makna panca indra.
    e. Kata ulang (reduplikasi) konsekutif, yakni kata ulang yang terjadi karena pemakai bahasa mengungkap lagi bentuk yang sudah diungkap (perulangan terjadi ke belakang).
    Contoh : tembak à menembak-nembak (BI)
    f. Kata ulang (reduplikasi) morfologis, yakni pengulangan morfem yang menghasilkan kata.
    Contoh : kabar à mengabar-ngabarkan (BI)
    naik à menaik-naikkan (BI)
    g. Kata ulanG non idiomatis, yakni perulangan yang maknanya jelas dari bagian yang diulang maupun dari prosesnya.
    Contoh : kertas-kertas à banyak kertas (BI)
    Rumah-rumah à banyak rumah.
    h. Kata ulang (reduplikasi) sintaksis, yakni proses pengulangan yang menghasilkan klause.
    Contoh : jauh-jauh à walaupun jauh (BI)
    Rapet-rapet à timakna rapet (BSDN)
    Ahli lain, Ramlan (1983: 55) membagi kata ulang (Reduplikasi) menjadi empat bagian :
    a. Pengulangan seluruh
    Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks.
    Contoh :
    - sepeda à sepeda-sepeda (BI)
    - buku à buku-buku (BI)
    - kebaikan à kebaikan-kebaikan (BI)
    b. Pengulangan sebagian
    Pengulangan sebagian adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya, dengan kata lain bentuk dasar tidak diulang seluruhnya.
    Contoh :
    - lelaki à bentuk dasar laki (BI)
    - tetamu à bentuk dasar tamu (BI)
    - beberapa à bentuk dasar berapa (BI)
    c. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, dalam golongan ini bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi.
    Contoh :
    - kereta-keretaan à bentuk dasar kereta (BI)
    - gunung-gunungan à bentuk dasar gunung (BI)
    - kekanak-kanakan à bentuk dasar kanak (BSDN)
    d. Pengulangan dengan perubahan fonem
    Kata ulang yang perubahannya termasuk sebenarnya sangat sedikit.
    Contoh :
    - gerak à gerak-gerik (BI)
    - robek à robak-rabik (BI)
    - serba à serba-serbi (BI)
    - rebut à berebut-rebutan (BSDN)


    Pengarang : MUHLISIN

    Jumat, 20 April 2012

    Majas penegasan

    Majas penegasan ialah majas yang berusaha menekankan pengertian suatu kata atau ungkapan.

    a. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
    b. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
    Contoh:
    · Pasukan itu maju ke depan.
    c. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
    Contoh:
    · Selamat datang pahlawanku, selamat datang pujaanku, selamat datang bunga bangsaku.
    d. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
    e. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
    f. Paralelisme anafora: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
    Contoh:
    sunyi itu duka
    sunyi itu kudus
    sunyi itu lupa
    sunyi itu lampus
    g. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
    Contoh:
    · Kita harus merapikan dan membereskan lemari kita.
    h. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
    i. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
    Contoh:
    · Karena buah penanya yang kontroversial, dia menjadi buah bibir masyarakat.
    · Kita harus saling menggantungkan diri satu sama lain, kalau tidak kita telah menggantung diri.
    j. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
    Contoh:
    · Semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda, motor, sampai mobil berjejer memenuhi halaman parkir gedung serba guna.
    · Baik itu RT, kepala desa, camat, bupati, gubernur bahkan presiden memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan.
    k. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
    Contoh:
    · Bapak kepala sekolah, para guru, dan murid-murid sudah berada di lapangan upacara.
    · Gedung-gedung, rumah-rumah, dan gubuk-gubuk, semuanya mengibarkan bendara Merah Putih pada tanggal 17 Agustus.
    l. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
    Contoh:
    · Paman saya wartawan → Wartawan, paman saya.
    · Dia datang → Datang dia.
    m. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
    Contoh:
    · Siapa yang tidak ingin hidup bahagia?
    · Apa ini hasil pekerjaanmu selama bertahun-tahun?
    n. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
    Contoh:
    · Dia dan ibunya ke Tasikmalaya (penghilangan predikat pergi)
    · Lari ! (penghilangan subjek kamu)
    o. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
    p. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
    q. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
    r. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
    s. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
    t. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
    u. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
    v. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
    w. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
    x. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
    y. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
    z. Pararelisme epifora: gaya bahasa yang menempatkan kata yang sama secara berulang-ulang diakhir baris puisi.
    Contoh:
    Bumi kelabu
    Luat kelabu
    Langit kelabu
    Alam semesta inipun kelabu
    Dan hatiku kini jadi kelabu.


    Rabu, 18 April 2012

    Karangan Deskripsi

    Deskripsi dipungut dari bahasa Inggris description yang tentu saja berhubungan dengan kata kerjanya to describe (melukiskan dengan bahasa). Seorang guru anatomi menerangkan bagian-bagian tubuh manusia kepada siswa-siswanya sehingga dalam benak siswa-siswanya bagian tubuh itu tergambarkan atau terbayangkan seperti keadan yang sebenarnya adalah salah satu contoh deskripsi. Uraian di atas mengandung pengertian bahwa karangan deskripsi merupakan karangan yang lebih menonjolkan aspek pelukisan sebuah benda sebagaimana adanya. Hal ini sesuai dengan asal katanya yaitu descrilele (latin) yang berarti “menulis tentang, membeberkan sesuatu hal, melukiskan sesuatu hal.”

    Penggambaran sesuatu dalam karangan deskripsi memerlukan kecermatan pengamatan dan ketelitian penulis yang kemudian dituangkan oleh penulis dengan menggunakan kata-kata yang kaya akan nuansa dan bentuk. Dengan kata lain, penulis harus sanggup mengembangkan suatu objek dalam rangkaian kata-kata yang penuh arti dan kekuatan sehingga pembaca dapat menerimanya seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, menikmati sendiri objek itu. Di sini penulis harus memilih kata yang tepat sesuai dengan gambaran objek yang sebenarnya sehingga melahirkan imajinasi yang hidup dan segar tentang ciri-ciri, sifat-sifat, atau hakikat dari objek yang dideskripsikan itu.

    Tulisan deskripsi dimaksudkan untuk menciptakan pengalaman pada diri pembaca dan memberikan identitas atau informasi mengenai objek tertentu sehingga pembaca dapat mengenalinya bila bertemu atau berhadapan dengan objek tadi.

    Berdasarkan pengerttian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan, membeberkan suatu objek sesuai dengan ciri-ciri, sifat-sifat, atau hakikat objek yang sebenarnya. Dalam tulisan dfeskripsi penulis tidak boleh mencampur-adukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya sendiri.

    Supaya karangan sesuai dengan tujuan penulisnya, diperlukan suatu pendekatan. Pendekaatan adalah cara penulis meneropong atau melihat sesuatu yang akan dituliskan. Penulis perlu mengambil sikap tertentu untuk dapat memperoleh gambaran tentang suatu objek penulisan. Pendekatan yang diumaksud adalah pendekatan realistis dan pendekatan impresionistis.

    a. Pendekatan Realistis
    Dengan pendekatan ini penulis dituntut memotret hal/ benda seobjektif mungkin sesuai dengan keadan yang dilihatnya. Ia bersikap seperti sebuah kamera yang mampu membuat detail-detail, rincian-rincian secara orisinil, tidak dibuat-buat, dan harus dirasakan oleh pembaca sebagai sesuatu yang wajar. Perhatikan kutipan di bawah ini sebagai contoh.
    “…Di perahu Kakek Abah ada bakul besar, sarung, tangguk kecil dan tangguk besar. Segulung tali ditaruhnya di buritan perahu. Pisau dan korek api juga ada. Rokok kretek dan sebotol air minum tergeletak di haluan. Air putih dalam botol kelihatan jernih…”
    (K. Usman. Bermain dengan Kerang Hijau. Jakarta: Aries Lima, hlm.11).

    b. Pendekatan Impresioniostis
    Pendekatan impresionistis adalah pendekatan yang berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif. Dengan pendekatan ini dimaksudkan agar setiap penulis bebas dalam memberi pandangan atau interpretasi terhadap bagian-bagian yang dilihat, dirasakan, atau dinikmatinya. Hal ini sesuai dengan sikap seorang seniman atau sastrawan yang dengan kepekaannya mampu mengekspresikan peristiwa yang dijumpainya. Simaklah contoh di bawah ini.

    “Lampu-lampu jalanan mengakhiri aktivitasnya. Sinar-sinarnya mulai menghilang dari pandangan mata. Sayup-sayup suara unggas mulai memecah kesunyian. Riang gembira kicaunya memanggil sang surya. Di sela-sela dahan sang surya mulai menampakkan sinarnya. Kehangatan sinarnya mencairkan embun di pucuk-pucuk dedaunan. Persada tampak ceria secerah sang penantang pagi yang menggantungkan harapannya.”

    Tulisan ini menggambarkan betapa penulis merasakan cerahnya pagi. Penulis berusaha mengekspresikan keindahan yang dirasakannya dengan melukiskan matahari terbit.

    Pengertian Paragraf

    Paragraf adalah kumpulan dari kalimat-kalimat yang mendukung satu gagasan utama. Dalam satu paragraf yang baik mestinya hanya memiliki satu kalimat utama ditambah kalimat-kalimat penjelas yang jumlahnya tidak dibatasi.

    Paragraf yang baik juga mensyaratkan adanya kohesi dan koherensi.
    Kohesi : bahwa kalimat-kalimat dalam satu paragraf haruslah berisi satu warna dan satu gagasan pokok.
    Koherensi : bahwa antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain haruslah nyambung dan padu sehingga saling melengkapi dan saling memperjelas/ mendukung sebuah konsep yang ingin disampaikan.

    Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf dibedakan menjadi:
    a. Paragraf Induktif : adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di bagian akhir.
    Contoh:
    Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan tanahnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika panen di desa ini selalu gagal.
    b. Paragraf Deduktif : adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di bagian awal.
    Contoh:
    Penghematan energi dapat dilakukan dengan cara menghemat pemakaian listrik. Cara penghematan tersebut dapat dilakukan dengan mengatur pemakaian. Misalnya, menyalakan lampu hanya pada ruang tertentu, artinya jika ruang tersebut tidak dipakai listrik dapat dipadamkan. Menyeterika cukup tiga hari sekali. Begitu pula menyalakan pompa air cukup dua kali sehari.

    Berdasarkan isinya paragraf dapat dibedakan menjadi:
    a. Narasi : adalah paragraf yang isinya menceritakan suatu hal/ kejadian. Karena bersifat menceritakan, maka biasanya disusun secara kronologis (berdasarkan urutan waktu).
    Contoh:
    Pada hari Minggu saya bersama keluarga pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Sehabis sholat subuh kami mulai berkemas-kemas. Ibu membuat nasi goreng istimewa untuk sarapan pagi. Kira-kira jam tujuh pagi kami sekeluarga berjumlah delapan orang berangkat dari rumah kami di Tanjung Duren. Di sepanjang perjalanan, adik kami Rita, dan Dhimas tak henti-hentinya bernyanyi dan bercanda ria. Setelah menjelajahi berbagai anjungan yang ada, kami sekeluarga semakin terkesan dengan panorama miniatur nusantara ini.
    b. Deskripsi : adalah paragraf yang isinya melukiskan sesuatu berdasarkan pengamatan panca indera sehingga pembaca seolah-olah merasa melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri tentang suatu tempat, kejadian, dan peristiwa yang dimaksud oleh penulisnya.
    Contoh:
    Sisa gerimis sore tadi masih menyisakan butiran-butiran mutiara kecil di ranting-ranting kurus bunga-bunga angsoka. Lembayung senja masih membiaskan cahaya tipis yang melontarkan warna-warni jingga, manakala menerpa butiran-butiran sisa gerimis. Danau Kintamani yang terpancang di punggung Bukit Batur itu seolah merupakan suaka alam bagi suku Trunyan yang memang rentan terhadap modernisasi. Sementara di sana-sini beberapa anak kecil menjajakan cindera mata, membantu mengais rejeki untuk tambahan beaya sekolah mereka.
    c. Eksposisi : adalah paragraf yang isinya menjelaskan tentang sesuatu sehingga pembaca yang tadinya tidak tahu menjadi tahu tentang sesuatu. Jadi paragraf ini sifatnya informatif.
    Contoh:
    Jalak Bali merupakan satwa eksotis yang keberadaannya sangat dilindungi. Jenis burung yang hampir punah ini sekarang sudah berhasil dikembang-biakkan. Dengan ijin dari Departemen Pertanian, seorang peternak dari Solo bisa membudidayakan bahkan sampai ribuan ekor. Keberhasilan ini diikuti oleh puluhan bahkan ratusan penangkar lain dari seantero tanah air. Dengan demikian keberadaan satwa ini sudah tidak mengkhawatirkan lagi. Dan kabar baiknya bagi pecinta burung, jalak bali sekarang sudah bisa dikomersiilkan lagi.
    d. Argumentasi : adalah paragraf yang isinya berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan yang diungkapkan oleh penulisnya. Cara meyakinkan ini biasanya dilengkapi dengan data, fakta, contoh yang konkret serta pola penalaran yang rasional.
    Contoh:
    Rokok sangat merugikan kesehatan. Kebiasaan buruk ini ternyata bisa meracuni diri sendiri, keluarga, dan orang lain di sekitarnya. Selain racun nikotin, tar, dan mono oksida masih ada ribuan zat berbahaya yang terkandung dalam rokok. Tak heran bila ada penelitian yang menyimpulkan bahwa satu batang rokok akan mengurangi satu menit nyawa pengisapnya. Itulah maka Pemerintah Daerah DKI memberlakukan Perda larangan merokok di tempat umum.
    e. Persuasi : adalah paragraf yang isinya berusaha membujuk pembaca sehingga melakukan sesuatu seperti yang dikehendaki penulisnya. Semua iklan dan poster pastilah bersifat persuasif.
    Contoh:
    Jakarta sangat rawan terhadap peredaran narkoba. Kota metropolitan yang kian sumpek ini makin dijejali dengan masalah sosial antara lain peredaran narkoba. Baik shabu-shabu, putau, ekstasi, atau yang lainnya sangat merusak generasi suatu bangsa. Orang jadi lupa diri, penuh dengan kecemasan, malas, dan tidak mampu berpikir logis. Anda tidak ingin menjadi korban, jangan coba-coba mendekatinya.

    Pengarang : Sri Satata

    Majas sindiran dan Majas pertentangan

    1) Majas sindiran
    Majas sindiran yaitu majas yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan pada orang lain dengan cara menyindir.

    a. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
    Contoh:
    · Bagus sekali rapormu, banyak benar angka merahnya.
    · Rajin sekali kamu, lima hari tidak masuk sekolah.
    b. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
    Contoh:
    · Pergi kau dari sini, bangsat!
    · Rupanya kamu yang merebut kekasihku, bajingan!
    c. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
    Contoh:
    · Perkataanmu sangat menyebalkan. Kata-kata itu tidak pantas disampaikan oleh orang terpelajar seperti kamu !
    · Bisa-bisa aku jadi gila melihat kelakuanmu.
    d. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
    e. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

    2) Majas pertentangan
    Majas pertentangan adalah bahasa yang diungkapkan dengan cara mempertentangkan suatu hal yang berfungsi mempertegas arti atau maksud.

    a. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
    Contoh:
    · Daerah ini tandus, tapi penduduknya makmur.
    b. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
    Contoh:
    · Nuklir dapat menjadi pemusnah masal, tetapi juga dapat mensejahterakan kehidupan umat manusia.
    · Yang tetap dalam dunia ini adalah perubahan.
    · Api dapat menjadi kawan atau lawan.
    c. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
    Contoh:
    · Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan semua hadir dalam pertunjukan itu.
    d. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
    Contoh:
    · Tahun ini semua anak kelas 8 bilingual naik kelas, kecuali dia.
    e. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
    Contoh:
    · Ada sebuah karangan fiksi dengan setting perang dunia I. “arahkan bom nuklir kea rah mereka, dan luncrkan!” padahal, pas perang dunia I belum ada roket nuklir.
    f. Okupasi: gaya bahasa yang mengandung bantahan atas suatu hal yang kemudian disampaikan pula penjelasannya.
    Contoh:
    · Merokok itu mengganggu kesehatan, tetapi ada juga yang tidak bisa bekerja tanpa merokok.

    Pengertian FRASE

    Frase adalah suatu gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsure klausa.

    Contoh :
    # Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakanaan
    S P O K

    FRASE memiliki dua jenis frase yaitu, Frase Endosentrik dan Frase Eksosentrik.
    1. Frase Endosentrik
    Frase Endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya.
    Frase Endosentrik dibagi menjadi beberapa macam-macam:
    a. Frase Endosentrik Koordinatif, adalah frase yang menyatakan kesetaraan, seperti kata dan, atau.
    Contoh:
    a.1 Adik dan kakak akan pergi ke Jakarta
    a.2 Hujan atau tidak hujan pertandingan harus dilaksanakan.
    a.3 Sepakbola dan basket olahraga yang disukai rahmat.

    b. Frase Endosentrik Atributif, yaitu frase yang menyatakan atribut, dan memiliki rumus UP + Atributif.
    Contoh:
    Saya melakukan perjalanan panjang di hari libur

    c. Frase Endosentrik Apositif , yaitu frase yang mempunyai peranan untuk menggantikan unsur yang lainnya.
    Contoh:
    c.1 Indonesia, asia tenggara, negara tropis.
    c.2 Bromo, gunung berapi, telah meletus.
    c.3 Hamengkubuwono X, gubernur yogyakarta, sangat bijak.

    2. Frase Eksosentrik
    Frase Eksosentrik adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.

    Contoh :
    Petugas sedang membersihkan buku di perpustakaan
    Dalam Frase Eksosentrik lebih menunjukan tempat seperti:
    - di perpustakaan - di hutan
    - di kantor - di sekolah
    - ke Jakarta - ke bali
    - ke sekolah - ke masjid
    - di kamar - di taman

    Selasa, 17 April 2012

    Pengertian Legenda

    Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda seringkali dipandang sebagai ”sejarah” kolektif (folkstory).

    Walaupun demikian, karena tidak tertulis maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga seringkali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah maka legenda harus bersih dari unsur-unsur yang mengandung sifat-sifat folklor.

    Jan Harold Brunvand menggolongkan legenda menjadi empat kelompok, yaitu legenda keagamaan (religious legends) legenda alam gaib (supernatural legends), legenda perseorangan (personal legends), dan legenda setempat (local legends).

    a. Legenda Keagamaan
    Legenda keagamaan adalah legenda orang-orang yang dianggap suci atau saleh. Karya semacam itu termasuk folklor karena versi asalnya masih tetap hidup di kalangan masyarakat sebagai tradisi lisan. Di Jawa hagiografi menceritakan riwayat hidup para wali penyebar Islam pada masa yang paling awal. Salah satu contohnya adalah legenda Wali Sembilan (Wali Songo) mereka adalah Mau- lana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.
    Selain sembilan wali tersebut, di Jawa masih banyak wali-wali lain. Legenda tentang mereka mudah dikenali sebab makam- makamnya diziarahi pada peringatan kematiannya (haul) yang disebut keramat atau punden. Para juru kunci itu pada umumnya, dapat menceritakan legenda orang sucinya. D.A. Rinkes dalam bukunya berjudul De Heiligen van Java (Orang-orang Saleh dari Jawa) menyebutkan beberapa wali lain di antaranya: Syeh Abdul Muhyi, Syeh Siti Jenar, Sunan Geseng, Ki Pandan Arang, dan Pangeran Panggung, Syeck Abdul Qodir Jaelani, dan lain- lain.

    b. Legenda Alam Gaib
    Legenda semacam ini biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini adalah untuk meneguhkan kebenaran ”takhayul” atau kepercayaan rakyat. Contoh legenda ini yaitu kepercayan terhadap adanya hantu, gendruwo, sundel bolong serta nyi blorong.

    c. Legenda Perseorangan
    Legenda perseorangan merupakan cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap benar-benar terjadi. Di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali. Di Jawa Timur yang paling terkenal prosa rakyat itu sudah diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan rumus cerita tokoh-tokoh rakyat tradisional.
    adalah legenda tokoh Panji. Panji adalah seorang putra raja Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur yang senantiasa kehilangan istrinya. Akibatnya, banyak muncul cerita Panji yang temanya selalu perihal istrinya yang menjelma menjadi wanita lain. Cerita Panji yang semula merupakan kesusasteraan lisan (legenda), namun telah banyak dicatat orang sehingga mempunyai beberapa versi dalam bentuk tulisan. Beberapa cerita yang tergolong ke dalam cerita panji misalnya “Ande-Ande Lumut” (dongeng Cinderella ala Jawa), Kethek Ogleng (seorang pangeran disihir menjadi seekor kera), ”Cerita Sri Tanjung”, ”Jayaprana dan Layongsari”. Suatu jenis legenda perseorangan mengenai perampok seperti
    Robin Hood, yang merampok penguasa korup atau orang kaya untuk didermakan kepada rakyat miskin. Legenda semacam ini di Jakarta pada ”tempo doeloe” adalah kisah petualangan ”Si Pitung”.

    d. Legenda Setempat
    Legenda setempat adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk topografi, yaitu bentuk permukaan suatu tempat, berbukit-bukit, berjurang dan sebagainya. Legenda setempat yang berhubungan dengan nama suatu tempat misalnya, legenda Kuningan. Kuningan adalah nama suatu kota kecil yang terletak di lereng Gunung Ceremai, di sebelah selatan kota Cirebon, Jawa Barat. Contoh lain mengenai legenda setempat yang berhubungan erat dengan nama tempat adalah legenda “Anak-anak Dalem Solo yang Mengembara Mencari Sumber Bau Harum”. Legenda ini berasal dari Trunyan, Bali. Legenda ini dapat dimasukkan ke dalam golongan legenda setempat karena menceritakan asal mula nama beberapa desa di sekitar Danau Batur, seperti Kedisan, Abang Dukuh, dan Trunyan. Selain itu contoh-contoh lain legenda setempat ini misalnya ”Asal Mula Nama Banyuwangi”, serta legenda ”Roro Jongrang”, ”Tangkuban Perahu”, ”Asal Mula nama Tengger dan Terjadinya Gunung Batok” serta “asal mula nama kota Bogor”.

    Minggu, 15 April 2012

    Pengertian Mitos

    Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya mengisahkan tentang terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam dan sebagainya. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya. Selain berasal dari Indonesia, adapula mitos yang berasal dari luar negeri. Mitos yang berasal dari luar negeri pun pada umumnya sudah mengalami pengolahan lebih lanjut sehingga tidak terasa lagi asing.

    Hal ini disebabkan cerita-cerita itu mengalami proses adaptasi. Menurut Moens-Zorab orang Jawa bukan saja telah mengambil alih mitos-mitos dari India, melainkan juga telah mengadopsi dewa-dewa serta pahlawan-pahlawan Hindu sebagai dewa dan pahlawan Jawa. Bahkan orang Jawa pun percaya bahwa mitos-mitos itu (di antaranya berasal dari cerita epos Ramayana dan Mahabharata) terjadi di Jawa. Di Jawa Timur misalnya, Gunung Semeru dianggap oleh orang Hindu Jawa dan Bali sebagai gunung suci Mahameru, atau sedikitnya sebagai Puncak Mahameru yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa.

    Mitos di Indonesia biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (cosmogony) terjadinya susunan para dewa dunia dewata (pantheon) terjadinya manusia pertama dan tokoh pahlawan bu- daya (culture hero); terjadinya makanan pokok, seperti beras dan sebagainya. Mengenai mite terjadinya padi, dikenal adanya Dewi Sri yang dianggap sebagai dewi padi orang Jawa.

    Menurut versi Surabaya (Jawa Timur), Dewi Sri adalah putri raja Purwacarita. la mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Sadana. Pada suatu hari selagi tidur, Sri dan Sedana disihir oleh ibu tirinya. Sadana diubah menjadi seekor burung layang-layang dan Sri diubah menjadi ular sawah. Versi lain dari Jawa menceritakan bahwa padi berasal dari jenazah Dewi Sri, istri Dewa Wisnu. Selain padi ada tanaman-tanaman lain yang juga berasal dari jenazah Dewi Sri, seperti: dari tubuhnya tumbuh pohon aren; dari kepalanya tumbuh pohon kelapa dari kedua tangannya tumbuh pohon buah-buahan; dari kedua kakinya tumbuh tana- man akar-akaran, seperti ubi jalar dan talas. Dewi Sri meninggal karena dirongrong terus menerus oleh raksasa yang bernama Kala Gumarang. Raksasa ini sangat keras hati sehingga walau sudah meninggal ia masih menjelma menjadi rumput liar, yang selalu mengganggu tanaman padi, jelmaan Dewi Sri. Istilah motif dalam ilmu folklor berarti unsur-unsur suatu cerita.

    Motif teks cerita rakyat adalah unsur dari suatu cerita yang menonjol dan tidak biasa sifatnya. Unsur itu dapat berupa benda, hewan yang luar biasa, suatu konsep (larangan atau tabu), suatu perbuatan (ujian ketangkasan), penipuan terhadap suatu tokoh, angka keramat dan sebagainya. Mengenai mitologi tentang tokoh-tokoh rakyat di seluruh dunia, seperti cerita Oedipus, Theseus, Romulus, Nyikang (dari Afrika), dan Ratu Watu Gunung (dari Jawa) pada umumnya mengandung unsur-unsur di antaranya: ibunya seorang perawan; ayahnya seorang raja; terjadi proses perkawinan yang tidak wajar; ia dikenal juga sebagai putra dewa; ada usaha sang ayah untuk membunuhnya; disembunyikan secara rahasia; dipelihara oleh orang tua angkatnya; kembali menuju dan menduduki tahrta kerajaan; menikah dengan seorang putri; dan sebagainya. Dengan mengamati unsur-unsur yang mendasari mitos maupun legenda tokoh-tokoh rakyat seluruh dunia. Raglan berkesimpulan bahwa penyebab adanya kesamaan riwayat hidup tokoh-tokoh dalam cerita prosa rakyat karena adanya pola perumusan yang sama. Oleh karena itu, walaupun tokoh-tokoh itu benar-benar ada, tetapi cerita siklus tokoh-tokoh rakyat kurang mengandung nilai sejarah. Hal ini disebabkan cerita

    resensi

    Anda tentu pernah mendengar istilah resensi. Jika Anda suka membaca koran, terutama edisi Minggu, Anda akan menemukan halaman yang khusus memuat resesensi. Istilah yang digunakan selain resensi adalah timbangan, neraca, ulasan, dan sebagainya. Biasanya yang diresensi merupakan buku terbita baru. Inti dari resensi adalah memberi tahu kepada calon pembaca tentang keunggulan dan kelemahan buku, sekaligus saran kepada calon pembaca mengenai perlu atau tidaknya buku itu dibaca.
                     Untuk membuat sebuah resensi yang baik, penulis harus menetapkan sasaran dalam menilai sebuah buku atau hasil karya sebagai berikut :
    1)  Sasaran Resensi, yang meliputi :
          a. Latar Belakang. Bagian ini menyajikan tema secara singkat ditambah dengan deskripsi mengenai buku tersebut. Deskripsi mengenai buku tidak hanya menyangkut isinya, tetapi juga identitaas bukunya.
          b.   Jenis Buku. Penulis resensi perlu menunjukkan kepada calon pembaca mengenai jenis buku yang diresensinya; roman, bibliografi, buku filsafat, buku ilmu pengetahuan, cerita detektif, dan sebagainya.
          c.   Keunggulan buku. Ada empat hal yang digunalan penulis resensi untuk menunjukkan keunggulan buku, yakni ;

    ·       Organisasi
    Maksudnya adalah kerangka buku itu. Apakah hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya harmonis, jelas, dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal atau tidak.
    ·       Isi
    Mempersoalkan bagaimana isi buku tersebut; apakah pengarang memberikan detail, teliti, memberikan sugestinya atau tidak.
    ·       Bahasa
    Menili bahasa yang digunakan dalam buku itu. Bahasa yang digunakan untuk buku ilmiah dan buku sastra jelas berbeda. Bahasa untuk karya ilmiah harus bersifat denotatif, hanya boleh menimbulkan satu penafsiran, sedangkan bahasa sastra memungkinkan orang mengembangkan imajinasinya sehingga dapat menimbulkan konotasi.
    ·       Perwajahan Buku
    Mengulas perwajahan buku ( lay out ), misalnya apakah terdapat salah cetak. Demikian pula tentang keserasian tata letak, gambar, ddan kulit buku dapat diulas di sini.
    2)  Aktualisasi Buku
          Bukan hanya buku baru, buku lama pun layak diresensi jika temanya masih atau kembali relevan. Misalnya buku karya Bung Karno “Di bawah Bendera Revolusi” diresensi orang pada awal revormasi, padahal buku ini dilarang beredar di masa orde baru. Pada awal revormasi, masyarakat perlu mengetahui sejarah pergerakan bangsa masa lalu yang terangkum dalam buku tersebut.
    3)  Menjernihkan Ilmu Pengetahuan
          Peresensi yang berpenglaman akan segera tahu keunggulan sebuah buku, apakah buku itu asli dari penulis atau kutipan dari penulis lain. Bila ia menyebutkan dalam resensinya, berarti ia telah menyelamatkan dunia ilmu pengetahuan dari kejahatan intelektual.

    Majas perbandingan

    Majas perbandingan ialah majas yang berusaha membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

    a. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
    Contoh:
    · Hati-hatilah kamu dalam mendayung bahtera rumah tangga, mengarungi lautan kehidupan yang penuh dengan badai dan gelombang.
    · Apabila suami-istri, antara nahkoda dan juru mudinya itu seia sekata dalam melayarkan bahtera, niscaya ia akan sampai ke pulau tujuan.


    b. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
    Contoh:
    · Banyak korban berjatuhan pada perang dunia kedua.
    · Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri?

    c. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
    Contoh:
    · Rumah itu bagaikan istana seorang raja.


    d. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
    Contoh:
    · Dia dianggap anak emas dalam keluarganya.
    · Perpustakaan adalah gudang ilmu.
    · Raja siang keluar dari ufuk timur.


    e. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.


    f. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.


    g. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.


    h. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.


    i. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
    Contoh:
    · Para siswa senang sekali membaca Andrea Hirata.
    · Dalam pertandingan kemarin Indonesia memperoleh perunggu, sedangkan Singapura memperoleh perak.
    · Ayang baru saja membeli Zebra padahal saya ingin Kijang.


    j. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.


    k. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
    Contoh :
    · Si monyet tinggal di hutan. uu aa uu aa
    · Kami berharap Anda dapat menerima pemberian yang tidak berharga ini.
    · Gajiku tak seberapa, hanya cukup untuk makan anak dan istri.
    · Pertolongan apakah yang Anda harapkan dari saya yang lemah dan bodoh ini ?
    · Terimalah bingkisan yang tidak tidak berarti ini.

    l. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Contoh :
    · Saya terkejut setengah mati mendengar suara geledek itu.
    · Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya.
    · Pekik merdeka berkumandang di angkasa.
    · Cita-cita anak itu setinggi langit Saya terkejut setengah mati mendengar suara geledek itu.
    · Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya.
    · Pekik merdeka berkumandang di angkasa.
    · Cita-cita anak itu setinggi langit.
    · Terik matahari membakar tulangku.


    m. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
    Contoh:
    · Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
    · Daun kelapa melambai-lambai di tepi pantai.
    · Awan hitam menebal diiringi halilintar bersahut-sahutan.
    · Bel sekolah memanggil-manggil para siswa untuk masuk ruangan.


    n. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.


    o. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
    Contoh:
    · Paman saya mempunyai atap di Jakarta.
    · Sampai sore ini dia belum kelihatan batang hidungnya.
    · Kami akan membeli tiga ekor ayam untuk lebaran nanti.

    p. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
    Contoh:
    · Indonesia meraih medali emas dalam kejuaraan bulutangkis.
    · Sekolah kami meraih juara pertama dalam pertandingan sepak bola.


    q. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
    Contoh:
    · Maaf, saya mau ke belakang sebentar.
    · Anak bapak ini agak kurang pendengaran.


    r. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.


    s. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.


    t. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.


    u. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.


    v. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.


    w. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
    Contoh:
    · Kayak cacing kepanasan aja loe!


    x. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.

    Sabtu, 14 April 2012

    Pengertian Seni Sastra

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Definisi kedua menurut kamus ini adalah karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

    Istilah sastra sendiri, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tulisan” atau ”karangan”. Sastra biasanya diartikan sebagai karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik. Bahasa yang indah artinya bisa menimbulkan kesan dan menghibur pembacanya. Isi yang baik artinya berguna dan mengandung nilai pendidikan. Bentuk fisik dari sastra disebut karya sastra. Penulis karya sastra disebut sastrawan. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada ”kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata ”sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

    Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini, sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya, kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa lokal. Misalnya, kamu yang bersekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah akan mempelajari sastra Jawa, teman-temanmu yang bersekolah di Jawa barat akan mempelajari sastra Sunda, dan seterusnya.

    Dari ketiga sumber di atas, arti kata sastra selalu mengarah pada inti yang sama berikut ini .
    a) Sastra berupa bahasa, untaian kata-kata, gaya bahasa, ungkapan.
    b) Sastra tercurah dalam bentuk kitab, karya tulis, tulisan, karangan, lisan.
    c) Sastra bernilai seni, indah, artistik, asli sastra berisi ajaran, pendidikan, instruksi, dan pedoman.

    Bidang Seni Sastra
    Seni sastra tidak hanya berhubungan dengan tulisan tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Oleh karena itu, seni sastra bisa dibagi menjadi dua, yaitu:
    a) Seni Sastra Tulis
    Sesuai namanya, seni sastra tulis merupakan bentuk karya sastra yang dituangkan dalam bentuk tulisan, yaitu kombinasi huruf yang mempunyai makna atau arti. Banyak sekali jenis seni sastra tulisan yang berkembang di masyarakat, misalnya dalam bentuk prosa, puisi, cerita fiksi, dan essai.
    b) Seni Sastra Lisan
    Seni sastra lisan disampaikan dengan bahasa lisan , yaitu dengan dituturkan secara langsung kepada pendengar, dengan atau tanpa iringan musik tertentu.

    Jumat, 13 April 2012

    Angkatan Pujangga Baru dan Karyanya

    Buku Pujangga Baru, Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B Jasin adalah sebuah bunga rampai (antologia) dari para pengarang dan penyair yang oleh penyusunnya digolongkan ke dalam Angkatan Pujangga Baru. Seperti diketahui, oleh para ahli dan para penyusun buku-buku pelajaran sastra Indonesia, perkembangan sastra Indonesia dibagi-bagi menjadi angkatan-angkatan. Angkatan Pujangga Baru biasanya ditempatkan sebagai angkatan kedua, yaitu setelah angkatan Balai Pustaka dan mendahului kelahiran angkatan ‘45. Tetapi kita lihat pembagian sejarah sastra Ind onesia dalam angkatan-angkatan ini, tidaklah disertai dengan alasan-alasan yang bisa kita terima. Tidak sedikit pula para sastrawan yang menolak atau tidak mau dimasukan dalam sesuatu angkatan, mereka memilih masuk angkatan yang disukainya. Misalnya Achdiat K. Mihardja pernah menyatakan bahwa ia lebih suka digolongkan kepada angkatan Pujangga Baru, padahal para ahli telah menggolongkannya kepada angkatan ‘45.

    1. Sutan Takdir Alisjahbana
    Orang besar ini dilahirkan di Natal (Tapanuli) pada 11-02-1908. Setelah menamatkan HIS di Bengkulu ia memasuki Kweekschool di Bukitinggi dan kemudian HKS di Bandung. Setelah itu ia belajar untuk Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar pada Sekolah Hakim Tinggi. Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan pada Fakultas sastra. Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta cita-cita dan keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang bermacam-macam pula pada dirinya. Karangannya mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat.
    Karya-karyanya antara lain:
    a. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)
    b. Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
    c. Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)
    d. Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
    e. Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936)
    f. Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
    g. Puisi Lama (1942)
    h. Puisi Baru (1946)

    2. Amir Hamzah
    Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28-2-1911 di Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah keluarga yang taat beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di Medan, dan Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi sehingga mendapat sebutan “Raja Penyair” Pujangga Baru.
    Karya-karyanya antara lain:
    a. Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)
    b. Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)
    c. Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)
    d. Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)

    3. Sanusi Pane
    Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14-11-1905. Ia mengunjungi SR di Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang, dan melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya pada Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi ke India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India. Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941. Pada jaman pendududkan Jepang menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta.
    Karya-karyanya antara lain:
    a. Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)
    b. Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
    c. Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)
    d. Kertajaya (sandiwara, 1932)
    e. Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933)
    f. Manusia Baru (Sandiwara, 1940)

    4. Muhamad Yamin, SH.
    Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus 1905. Setelah menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi sekolah-sekolah vak seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian menamatkan AMS di Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah Hakim di Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan 19’45, ia memegang jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga akhir hayatnya (26 Oktober 1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi.
    Karya-karyanya antara lain:
    a. Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)
    b. Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)
    c. Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)
    d. Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath Tagore)
    e. Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
    f. Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
    a. Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
    b. Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
    c. 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
    d. Tan Malaka (19’45)
    e. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)

    5. J.E. Tatengkeng Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya bercorak religius. Dia juga sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal. Karyanya antara lain
    Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).

    6. Hamka
    Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern dan tokoh yang ingin membersihkan agama Islam dari khurafat dan bid’ah. Pendidikan Hamka hanya sampai kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan madsrasah. Ia pernah mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto. Prosa Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang produktif.
    Karyanya antara lain:
    a. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
    b. Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)
    c. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)
    d. Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)
    e. Ayahku (biografi)
    f. Karena Fitnah (roman, 1938)
    g. Merantau ke Deli (kisah;1939)
    h. Tuan Direktur (1939)
    i. Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950)
    j. Keadilan Illhi