Kamis, 24 Mei 2012

Mikroorganisme penghasil mikoprotein


Mikoprotein adalah bahan makanan yang berprotein tinggi yang dibuat dari jamur mikroskopis. Beberapa jamur adalah mikroorganisme dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Jamur sering digunakan sebagai bahan makanan. Ragi yang ada dalam roti dan digunakan untuk membuat ekstrak ragi dikenal sebagai marmite. Beberapa jenis keju berwarna kebiruan atau kehijauan karena mengandung jamur Penicillium requeforti. Tempe dibuat dengan menumbuhkan jamur Rhyzophus spp pada kacang kedele yang telah direbus. Semua makanan dari jamur tadi adalah makanan tradisional dan telah dimakan semenjak ribuan tahun yang lalu. Mikoprotein adalah bahan makanan yang baru dan bukanlah bahan makanan tradisional. Salah satu masalah dengan mikoprotein adalah keyakinan orang untuk memakan untuk pertama kalinya.

Bagaimana mikoprotein ditemukan ?
Mikoprotein ditemukan pada tahun 1960an, pada waktu itu suatu perusahaan makanan mencari mikroorganisme yang dapat mengubah karbohidrat yang harganya murah menjadi bahan makanan yang berkadar protein tinggi. Perusahaan tersebut memutuskan untuk menggunakan jamur untuk menghasilkan bahan makanan. Untuk tumbuh jamur memerlukan bahan makanan, oleh sebab itu perusahaan mulai mencari jamur untuk ditumbuhkan di dalam suatu medium yang mengandung larutan gula.

Syarat-syarat jamur yang digunakan untuk bahan makanan adalah sebagai berikut.
a. Jamur harus tidak berbahaya untuk dimakan.
b. Jamur harus mengandung gizi yang tinggi.
c. Jamur yang cepat tumbuh.
d. Mempunyai rasa yang enak dan tekstur yang dapat digunakan sebagai makanan.

Dari seluruh dunia dikumpulkan tiga ribu jenis jamur kemudian diuji. Akhirnya jamur yang paling baik didapatkan dari kebun belakang suatu rumah di Bucking hamshire yang jaraknya 6 km dari laboratorium penelitian perusahaan. Jamur tersebut merupakan jamur mikroskopis yang tumbuh dengan cepat dalam larutan gula. Jamur tersebut dinamakan Fusarium graminearum. Proses penumbuhan dan pengujian jamur kemudian dimulai. Jamur tersebut diujicobakan kepada hewan dan manusia yang secara sukarela mau mencoba atau memakan untuk meyakinkan bahwa jamur tersebut tidak mempunyai pengaruh yang membahayakan terhadap manusia. Sebelum mikoprotein itu dinyatakan aman untuk dimakan dan dijual di Toserba untuk mengujicobakannya diperlukan waktu 10 tahun.

Cara Membuat Mikoprotein
Jamur mikroskopik ditumbuhkan di dalam larutan gula dan disimpan dalam tangki besar yang dinamakan fermentor. Gula yang diperlukan jamur untuk proses fermentasi diperoleh dari pemecahan amilum dari biji-bijian seperti tepung maizena atau terigu, tetapi dapat juga tepung kentang. Amoniak ditambahkan ke dalam fermentor untuk memenuhi kebutuhan nitrogen yang diperlukan jamur untuk membuat protein. Oksigen juga diperlukan agar jamur dapat bernapas. Temperatur dipertahankan 32’C. Segala sesuatu yang digunakan di dalam fermentor kecuali jamur harus steril. Jamur tumbuh sangat cepat sehingga beratnya menjadi 2 kali lipat setiap 5 jam.

Secara teratur jamur dikeluarkan dari fermentor, kemudian dipanaskan untuk merombak bahan-bahan yang mungkin membahayakan kesehatan jika dimakan. Mikoprotein berupa padatan berwarna kuning muda dengan sedikit rasa cendawan (mushroom). Mikoprotein itu sangat cocok untuk dijadikan makanan karena hampir tidak berasa, akan tetapi dapat diberi rasa dan warna sesuai selera. Tekstur mikoprotein dapat diubah dan dibuat menjadi makanan yang berbeda. Mikoprotein mengandung serat yang panjang, jika dibiarkan tumbuh lama akan menjadi tekstur yang kasar. Dengan lapisan-lapisan serat yang bergabung bersama, mikoprotein dapat berupa tekstur yang kenyal seperti daging. Dengan perlakuan sedikit berbeda mikoprotein dapat berupa tekstur daging ayam atau ikan. Burger berupa lempengan daging dan steak dapat dibuat dari mikoprotein. Mikoprotein dapat dibuat dalam bentuk tepung. Tepung ini dapat dijadikan bermacam-macam makanan kripik. Oleh sebab itu mikoprotein merupakan bahan makanan serba guna dan dapat dibuat menjadi beberapa jenis makanan yang berbeda. Mikoprotein biasanya dengan berat yang sama harganya sedikit lebih murah dari daging.

Pengarang: Dra. Sumastri; M.Si

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar