Rabu, 23 Mei 2012

Pengertian Postmodern


Mengenai beragamnya definisi postmodernisme, Kvale berpendapat bahwa istilah postmodernisme, yang berasal dari istilah posmodern, merupakan pengertian yang sangat luas, kontroversial, dan ambigu. Hal ini terlihat dari pembagian pengertian yang Kvale (2006) lakukan untuk membedakan istilah postmodern, yaitu :
1. Postmodernitas yang berkaitan dengan era posmodern,
2. Posmodernism yang berkaitan dengan ekspresi kultural era posmodern, dan
3. Pemikiran posmodern, atau wacana, yang berkaitan dengan refleksi filosofis dari era dan budaya posmodern.

Postmodernisme sebagai wacana pemikiran harus dibedakan dengan postmodernitas sebagai sebuah kenyataan sosial. Postmodernitas adalah kondisi dimana masyarakat tidak lagi diatur oleh prinsip produksi barang, melainkan produksi dan reproduksi informasi dimana sektor jasa menjadi faktor yang paling menentukan. Masyarakat adalah masyarakat konsumen yang tidak lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan, melainkan demi memenuhi gaya hidup. Sedangkan postmodernisme adalah wacana pemikiran baru sebagai alternatif terhadap modernisme.

Modernisme sendiri digambarkan sebagai wacana pemikiran yang meyakini adanya kebenaran mutlak sebagai objek representasi bagi subjek yang sadar, rasional, dan otonom. Sebagai realitas pemikiran baru, postmodernisme meluluhlantakkan konsep-konsep modernisme, seperti adanya subjek yang sadar-diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang dunia, dan sejarah linier. Istilah “pos”, menurut kubu pos tmodernisme, adalah kematian modernisme yang mengusung klaim kesatuan representasi, humanisme-antroposentrisme, dan linieritas sejarah guna memberi jalan bagi pluralisme representasi, antihumanisme, dan diskontuinitas.

Menurut Jean Francois Lyotard, bahwa awalan post pada Postmodern, merupakan elaborasi keyakinan modern, sebagai upaya untuk memutuskan hubungan dengan tradisi modern dengan cara memunculkan cara-cara kehidupan dan pemikiran yang baru sama sekali. Pemutusan dengan masa lalu (jaman modern) menurutnya merupakan jalan untuk melupakan dan merepresi masa lalu. Jadi semacam prosedur psikoanalitik dari anamnesis atau analisis yang memungkinkan para pasien untuk mengelaborasi persoalan-persoalan sekarang dengan secara bebas mengasosiasikan detil-detil melalui berbagai situasi masa lalu yang memungkinkan mereka untuk mengungkapkan makna-makna tersembunyi dalam kehidupan dan prilaku mereka (Lubis, 2003).

Kalau ilmu pengetahuan modern berkembang sebagai pemenuhan keinginan untuk keluar dari mitos-mitos yang digunakan masyarakat primitif menjelaskan fenomena alam, dan modernitas adalah proyek intelektual yang mencari kesatuan berdasarkan fondasi sebagai jalan menuju kemajuan (progress). Mitos politik ini menganggap sain modern sebagai alat untuk kebebasan dan humanisasi. Sementara dalam pandangan Postmodernism bahwa sain tidak mampu menghilangkan mitos-mitos dari wilayah ilmu pengetahuan. Sementara metanarasi itu berfungsi sebagai mitos baru bagi masyarakat modern.

Bagi Postmodernis ide rasionalitas dan humanisme merupakan konstruksi historis, konstruksi sosial budaya dan bukan sesuatu yang sifatnya alami (kodrat) dan universal. Karena itu mereka tidak dapat diseragamkan tanpa mempertimbangkan kondisi sosial- historis serta budaya lokal. Keaneka ragaman pemikiran menurut Lyotard hanya dapat dicapai dengan melakukan penolakan terhadap kesatuan (unity), dengan mencari disensus (ketidaksepakatan) secara radikal.

Habermas menyebut kondisi kebudayaan baru itu sebagai situasi ketidakteraturan baru (die neue Unubersichtlichkeit) sambil mengajukan rasio komunikatif sebagai alternatif. Jean Francois Lyotard merupakan pemikir postmodern yang penting karena ia memberikan pendasaran filosofis pada gerakan postmodern. Penolakannnya terhadap konsep Narasi Besar serta pemikirannya yang mengemukakan konsep perbedaan dan language game sebagai alternatif terhadap kesatuan (unity).


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar