Minggu, 22 April 2012

Pola DAN PROSES SOSIALISASI


Selain dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, sosialisasi juga dapat dibagi menjadi dua pola, yaitu sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi represif (repressive socialization) memiliki ciri-ciri sebagai berikut: menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman, penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua, serta penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal, dan berisi perintah.
Adapun sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola sosialisasi di mana anak diberi imbalan ketika berperilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan. Yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluannya.
Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut.
1. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contohnya kata “mamah” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mah”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama- kelamaan anak memahami secara tepat makna kata mamah tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
2. Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan secara bertahap anak semakin sempurna dalam menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Dalam diri anak mulai terbentuk kesadaran tentang nama sendiri dan nama orang tuanya, kakaknya, dan teman di lingkungan sekitarnya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain yang biasa disebut empati juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other) bagi kehidupan dirinya.
3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Proses peniruan yang dilakukan pada tahap kedua sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama dan melakukan proses sosialisasi. Ia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini, lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya dan perlu ia patuhi agar keberadaannya diakui oleh lingkungannya.
4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Ia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat luas. Ia mulai menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Pada tahap ini, seseorang sudah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya serta sudah memahami tata aturan dan norma- norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.


Sumber : BSE

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar