Jumat, 27 April 2012

PERAN GOLONGAN TERPELAJAR, PROFESIONAL DAN PERS DALAM MENUMBUHKAN KEBANGKITAN NASIONAL

Adanya perkembangan pendidikan Barat dan pendidikan Islam mendorong kaum bumiputera mendapatkan peluang untuk mendapatkan pendidikan formal. Sehubungan dengan itu, lahir golongan terpelajar Indonesia. Kelompok tersebut memiliki kedudukan yang terhormat pada awal abad ke-20. Mereka lebih pintar dari kebanyakan orang Indonesia. Adapun dilihat dari kedudukan ekonominya, mereka lebih baik dari orang- orang Indonesia lainnya.

Kelompok terpelajar Indonesia juga disebut sebagai kelompok masyarakat. Mereka terdiri atas para profesional atau yang memiliki keahlian tertentu karena pendidikan yang mereka sandang, seperti dosen, guru, dokter, dan ahli ekonomi. Mereka disebut profesional karena merupakan kelompok masyarakat yang memiliki keahlian yang terbentuk berkat pendidikan. Sekolah yang dimasukinya ternyata dapat mengubah kedudukan mereka yang terpandang dan dapat berperan dalam masyarakat Indonesia.

Kelompok terpelajar merupakan kelompok pertama yang menyadari bahwa penjajahan telah merugikan kepentingan bangsa Indonesia. Penjajahan yang melakukan diskriminasi atau membeda-bedakan antara orang Belanda dan pribumi harus dilawan. Mereka menjadi kelompok yang dapat menyampaikan ide-idenya tentang kebangsaan.

Kaum terpelajar berpendapatan bahwa penjajahan Belanda memiliki beberapa keburukan, di antaranya sebagai berikut.
1) Adanya diskriminasi dan pembatasan terhadap penduduk pribumi di segala bidang.
2) Belanda menguras sumber daya alam dan manusia Indonesia untuk kepentingan kolonial dan negeri Belanda.
3) Belanda sangat takut jika bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pintar dan maju.

Peranan kelompok terpelajar dalam membangkitkan kesadaran nasional tampak dalam kegiatan diskusi sosial atau politik yang sering mereka selenggarakan dalam proses belajar mereka. Peranan mereka dilakukan di antaranya melalui hal-hal berikut.
1) Organisasi politik yang berperan sebagai sarana perjuangan mereka untuk mewujudkan cita-citanya.
2) Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, timbullah suatu kekuatan sosial baru dalam pentas politik nasional yang menyadari nasib buruk yang dialami bangsanya. Kelompok inilah yang kelak menjadi pemicu pergerakan nasional.
3) Menyapaikan kritik kepada kebijakan politik kolonial di Indonesia bahwa pemerintah kolonial telah melakukan praktik diskriminasi terhadap masyarakat pribumi.
4) Menyebarkan gagasan nasionalisme dan semangat kebangsaan dari hasil bacaan terhadap karya filsuf-filsuf dunia.

Sesungguhnya semangat kebangsaan bukan hanya ditumbuhkembangkan oleh golongan terpelajar di Indonesia, melainkan juga oleh pelajar Indonesia yang sekolah di negeri Belanda. Mereka juga banyak mempelajari pemikiran-pemikiran nasionalis, semangat demokrasi, dan hak-hak asasi manusia. Setelah belajar dan bergaul dengan berbagai bangsa, mereka dapat menyaksikan secara lebih nyata bahwa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia juga ditentang oleh golongan terpelajar Belanda di negerinya sendiri.

Kaum terpelajar Indonesia yang berada di Belanda menemukan ide-ide politik mengenai kebebasan sipil dan pemerintah demokratis. Pemikiran-pemikiran dan kelompok sosialis yang antikapitalisme juga dicerna dengan baik oleh mereka dan dijadikan sebagai salah satu semangat perjuangan untuk melawan kolonialisme di Indonesia, serta mendorong kemerdekaan ekonomi dan politik.

Selain kaum terpelajar, pers juga memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Pers adalah kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan penerbitan berita atau informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Penerbitan pers didukung oleh para golongan terpelajar yang berprofesi sebagai penulis, wartawan, atau penyiar berita. Bahasa cetak menjadi sarana penting dalam menumbuhkan semangat dan kesadaran nasional. Melalui pers, komunikasi dan penyebaran infomiasi lebih bebas, terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun tanpa membedakan golongan dan kedudukan sosial ekonomi.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar