Selasa, 01 Mei 2012

Proses terbentuknya kematangan sosial


Pada umumnya perkembangan merupakan hasil proses kematangan atau kedewasaan (Hurlock, 1998 : 28). Demikian pula, kematangan sosial sebagai hasil proses belajar anak yang diperolehnya melalui sosialisasi. Sosialisasi merupakan proses dari penyerapan sikap-sikap, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan masyarakat sehingga individu terampil dalam menguasai kebiasaan-kebiasaan kelompoknya dan berprilaku sesuai dengan tuntutan sosialnya dan dengan demikian individu akan menjadi orang yang mampu bermasyarakat dan diterima di lingkungan sosialnya, sebagai cermin adanya kematangan sosial sesorang anak maka haruslah melalui tahapan sosialisasi.

Menurut Hurlock (1998 : 250), proses sosialisasi meliputi beberapa proses yaitu :
a. Belajar berprilaku yang dapat diterima secara sosial
b. Memainkan peran sosial yang diterima oleh lingkungannya
c. Terjadinya perkembangan sikap sosial akibat adanya proses sosialisasi
d. Adanya rasa puas dan bahagia karena dapat ikut ambil bagian dalam aktifitas kelomponya atau dalam hubungannya dengan teman atau orang dewasa yang lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan sosial. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya perbedaan antara ketrampilan dan kematangan sosial seseorang anak dengan lainnya, yaitu :
a. Usia keronologis dan usia mental anak (Johnson dan Medinnus, 1976 : 290).
Semakin bertambahnya usia anak, ia akan semakin trampil, semakin besar bariasi dan terampilannya, semakin abik pula kualitasnya (Hurlock, 1998:162)
b. Urutan anak,
ada perbedaan perkembangan motorik anak menurut urutan kelahiran anak. yang dikemukakan oleh Hurlock (1998 : 54) bahwa perkembangan motorik anak pertama cenderung lebih baik daripada perkembangan anak yang lahir kemudian hal ini lebih dikeranakan oleh perbedaan rangsangan yang diberikan oleh orang tuanya. Demikian juga dengan kondisi kematangan sosial anak hal ini dipengaruhi oleh urutan anak (Sobur, 1986 : 5-6) anak pertama akan lebih banyak memerankan model sosial dibandingkan dengan anak tengah ataupun anak bungsu.
c. Jenis kelamin,
jenis kelamin membedakan pola interaksi sosial anak antara anak perempuan dan anak laki-laki memiliki perbedaan pola interaksi, hal ini mempengaruhi pula pada kematangan sosial anak. Dua anak yang usianya sama tetapi berjenis kelamin berbeda, maka kematangan sosialnya pada aspek-aspek tertentu tentu berbeda.
d. Keadaan sosial ekonomi,
kondisi perekonomian orang tua (keluarga) akan berdampak pada sikap interaksi sosial anak. Secara umum dapat tergambarkan bahwa anak-anak yang memiliki kondisi sosial ekonomi lebih baik maka anak akan memiliki kepercayaan diri yang baik pula, seperti yang dikemukakan oleh Zakiah Darajat (1987;87). Anak-anak orang kaya memiliki berbagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosialnya pada berbagai kesempatan dan kondisi lingkungan yang berbeda.
e. Kepopuleran anak,
anak-anak yang memiliki kelebihan dalam hal kepopuleran maka anak tersebut akan semakin bisa diterima oleh lingkungan sosialnya.
f. Kepribadian anak,
kepribadian anak disini adalah tipologi anak pada masa perkembangan. Anak-anak yang memiliki kepribadian terbuka atau yang disebut berkepribadian extrofert akan lebih bisa berinteraksi dengan lingkungannya dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki tipe kepribadian tertutup introfert.
g. Pendidikan orang tua,
pendidikan orang tua mempengaruhi bagaimana anak bersikap dengan lingkungannya. Ketidaktahuan orang tua akan kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya tentu membatasi anak untuk dapat lebih leluasa melakukan eksplorasi sosial diluar lingkungan rumahnya. Pendidikan orang tua yang tinggi, atau pengetahuan yang luas maka orang tua memahami bagaimana harus memposisikan diri dalam tahapan perkembangan anak. Orang tua yang memiliki pengetahuan dan pendidikan yang baik maka akan mendukung anaknya agar bisa berinteraksi sosial dengan baik.

Sumber: Damandiri

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar