Senin, 07 Mei 2012

Pendekatan Pembelajaran Anak Usia Dini


Pembelajaran bagi anak usia dini berbeda dengan pembelajaran lainnya sehingga pendekatan yang digunakan dalam mendidik mereka pun disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak. Berikut ini diuraikan tentang tiga aliran pokok dalam pendidikan yang dapat digunakan untuk mendidik anak (Santoso, 2002 : 2).

a. Nativisme
Aliran ini mengatakan bahwa proses pembentukan kepribadian anak ditentukan oleh bakat yang dimiliki anak sejak lahir. Dengan demikian bakat atau pembawaan menentukan perkembangan anak. Mengingat pendidikan tidak mempunyai peran maka aliran ini disebut juga pesimisme sebab pendidik merasa pesimis tidak dapat mepengaruhi anak didik karena faktor yang penting adalah faktor bakat.
b. Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa proses pembentukan kepribadian anak ditentukan oleh pengaruh lingkungan. Anak yang baru lahir ibarat kertas putih, lingkunganlah yang mempengaruhi. Hal ini dikenal dengan nama teori tabularasa. Pendidik dapat memberikan pengaruh, pengalaman, bimbingan, arahan atau aktivitas kepada anak didik. Oleh sebab peranan pendidik sangat besar maka aliran ini disebut juga optimisme.
c. Konvergensi
Aliran ini berpendirian bahwa terbentuknya kepribadian anak tergantung dari faktor bakat dan juga faktor lingkungan. Aliran konvergensi ini merupakan perpaduan antara nativisme dan empirisme. Bakat dan lingkungan keduanya penting dalam perkembangan anak dalam membentuk kepribadiannya.

Adapun pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran bagi anak usia dini didasarkan atas pendekatan-pendekatan sebagai berikut (Direktorat PADU, 2002 : 5). :
1) Berorientasi pada kebutuhan anak.
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak untuk mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan dan gizi yang dilaksanakan secara integratif dan holistik.
2) Belajar melalui bermain.
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
3) Kreatif dan inovatif.
Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru.
4) Lingkungan yang kondusif.
Lingkungan harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan, dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain.
5) Menggunakan pembelajaran terpadu.
Model pembelajaran terpadu yang beranjak dari tema yang menarik anak (center of interest) dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.
6) Mengembangkan keterampilan hidup.
Mengembangkan keterampilan hidup melalui pembiasaan-pembiasaan agar mampu menolong diri sendiri (mandiri), disiplin, mampu bersosialisasi dan memperoleh bekal keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.

Sumber: upi

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar