Sabtu, 05 Mei 2012

Perjuangan Bersenjata Terhadap Jepang

Para pemimpin pergerakan nasional semakin tidak tahan menyaksikan penderitaan dan kesengsaraan rakyat yang memilukan. Oleh karena itu, sebagian dari mereka mulai bangkit menentang Jepang dengan cara perlawanan senjata. Perlawanan bersenjata terhadap Jepang terjadi diberbagai daerah, antara lain sebagai berikut.

a. Di Aceh, perlawanan meletus di daerah Cot Plieng pada bulan November 1942 di bawah pimpinan Tengku Abdul Jalil. Perlawanan ini akhirnya dapat ditumpas oleh tentara Jepang dan Abdul Jalil mati ditembak.

b. Di Jawa Barat, perlawanan meletus pada bulan Februari 1944 yakni di daerah Sukamanah di bawah pimpinan K.H. Zainal Mustafa. Ia tidak tahan lagi melihat kehidupan rakyat yang sudah semakin melarat dan menderita akibat beban bermacam-macam setoran dan kerja paksa. Di samping itu, K.H. Zainal Mustafa juga menolak melakukan seikeirei, hal ini dinilai bertentangan dengan ajaran Islam sehingga ia menghimpun rakyat untuk melawan Jepang.

c. Di Aceh, perlawanan muncul lagi pada bulan Nopember 1944 yang dila- kukan oleh prajurit-prajurit Giyugun di bawah pimpinan Teuku Hamid. Ia bersama satu peleton anak buahnya melarikan diri ke hutan kemudian me- lakukan perlawanan. Untuk menumpas pemberontakan ini, Jepang mela- kukan siasat yang licik, yakni menyandera seluruh anggota keluarganya. Dengan cara ini akhirnya Teuku Hamid menyerah dan pasukan- nya bubar.

d. Di Blitar, perlawanan meletus pada tanggal 14 Februari 1945 di bawah pimpinan Supriyadi, seorang Komandan Pleton I Kompi III dari Batalion II Pasukan Peta di Blitar. Perla- wanan di Blitar ini merupakan perlawanan terbesar pada masa pendudukan Jepang.

Seikeirei, yaitu penghormatan kepada Kaisar Jepang yang dianggap sebagai ketunan Dewa Matahari dengan cara meng- hadap ke timur laut (Tokyo) dan membungkukkan badan dalam- dalam.

BSE

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar