Kamis, 03 Mei 2012

Kebutuhan Zat Gizi Pada remaja


Makanan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja. Dalam Tri Guna Makanan dimana makanan sebagai sumber energi, zat pembangun dan pengatur sangat mendukung untuk pemenuhan gizi remaja .

a. Energi
Kebutuhan energi pada remaja dipengaruhi oleh tingkat aktivitas dan untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan pada saat pubertas. Kebutuhan energi untuk remaja laki-laki berkisar antara 2050 kalori sampai 2600 kalori, sedangkan remaja perempuan kebutuhan energi berkisar antara 2050 kalori sampai 2200 kalori. Remaja laki-laki mempunyai peningkatan yang lebih besar pada berat badan, tinggi badan ,dan masa bebas lemak, maka mereka mempunyai kebutuhan akan kalori yang lebih besar (Sayogyo,1995).

b. Karbohidrat
Merupakan sumber energi utama bagi tubuh dalam melakukan aktivitas fisik. Remaja sebaiknya makanannya mengandung ± 50% karbohidrat sehari-harinya agar mendapatkan karbohidrat yang cukup melakukan aktivitas fisiknya, dengan tidak lebih dari 10% nya di dapatkan dari karbohidrat sederhana seperti gula pasir dan sirup. Karbohidrat akan disimpan dalam bentuk glikogen otot yang diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik, dan bentuk glikogen hati diperlukan untuk memelihara kadar gula darah (Sayogyo, 1995).

c. Lemak
Lemak menjaga kesehatan jantung dan peredaran darah, remaja harus membatasi masukan makanan lemak, minyak seperti donat, pasteri, mentega, es krim dan lain-lain. Makanan ini cenderung mengisi lambung tetapi otot-otot tidak mendapat cukup bahan- bakarnya dan dapat makanan kandungan lemaknya ± 25% saja. Namun demikian lemak tetap diperlukan oleh karena itu lemak sebaiknya tidak kurang dari 20-25% total kalori, karena untuk melakukan aktivitas fisik, 20-25% kalorinya berasal dari lemak (Sayogyo, 1995). d. Protein Kebutuhan protein berguna untuk menunjang pertumbuhan fisik yang cepat pada saat masa remaja, kebutuhan protein berkisar antara 1,0gram/kg berat badan sampai 2,0gram/kg berat badan. Remaja yang kekurangan asupan protein akan menyebabkan kurang optimalnya pertumbuhan yang akan dicapai, terhambatnya pematangan seksual dan pengurangan jumlah lean body mass (Sayogyo, 1995).

Sumber: UPN

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar