Sabtu, 14 April 2012

Bentuk-bentuk Proses perubahan kebudayaan

Bentuk-bentuk Proses perubahan kebudayaan meliputi hal-hal sebagai berikut.

1) Difusi,yaitu penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain, dari orang ke orang lain, dan dari masyarakat ke masyarakat lain. Contoh: Pada masyarakat tani tradisional pengolahan lahan pertanian masih menggunakan tenaga hewan dan tenaga manusia. Dengan adanya hubungan dengan masyarakat lain mereka mengenal mesin traktor yang ternyata lebih praktis dan lebih cepat dalammengolah lahan. Pada akhirnya mereka menggunakan traktor dalam mengolah lahan pertanian menggantikan tenaga hewan dan tenaga manusia.
Manusia dapat menghimpun pengetahuan baru dari hasil penemuan-penemuan. Tipe difusi:
a) Difusi intra masyarakatD
(1) Pengakuan bahwa penemuan baru bermanfaat bagi masyarakat
(2) Ada tidaknya unsur kebudayaan yang mempengaruhi (untuk diterima/ditolak)
(3) Unsur berlawanan dengan fungsi unsur lama, akan ditolak
(4) Kedudukan penemu unsur baru ikut menentukan penerimaan
(5) Ada tidaknya batasan dari pemerintah

2) Akulturasi (cultural contact), yaitu suatu kebudayaan tertentu yang dihadapkan denganunsur-unsur kebudayaan asing, yang lambat laun unsur kebudayaan asing tersebut melebur atau menyatu ke dalam kebudayaansendiri(asli), tetapitidak menghilangkancirikebudayaan lama. Hal yang terjadi dalam akulturasi adalah: a) Substitusi, unsur kebudayaan yang ada sebelumnya diganti, melibatkan perubahan struktural yang kecil sekali. b) Sinkretisme, unsur-unsur lama bercampur denganyang baru dan membentuk sebuah sistem baru. c) Adisi, unsur-unsur baru ditambahkan pada unsur yang lama. d) Dekulturasi, hilangnya bagian substansial sebuah kebudayaan. e) Orijinasi, tumbuhnya unsur-unsur baru untuk memenuhi kebutuhan situasi yang berubah. f) Rejection (penolakan), perubahan yang sangat cepat sehingga sejumlah besar orang tidak dapat menerimanya, menyebabkan penolakan, pemberontakan, gerakan kebangkitan.

3) Asimilasi, yaitu proses penyesuaian (seseorang/kelompok orang asing) terhadap kebudayaan setempat. Dengan asimilasi kedua kelompok baik asli maupun pendatang lebur dalam satu kesatuan kebudayaan. Penyebab asimilasi antara lain: toleransi, rasa simpati, kesamaan

4) Penetrasi, yaitu masuknya unsur-unsur kebudayaan asing secara paksa, sehingga merusak kebudayaan lama yang di datangi. Apabila kebudayaan baru seimbang dengan kebudayaan setempat, masing-masing kebudayaan hampir tidak mengalami perubahan atau tidak saling mempengaruhi, disebut hubungan sym- biotic.

5) Invasi, yaitu masuknya unsur-unsur kebudayaan asing ke dalam kebudayaan setempat dengan peperangan (penaklukan) bangsa asing terhadap bangsa lain. Masuknya Belanda ke Indonesia pada masa perjanjiandahulu membawa serta unsur-unsur budaya yang sebagian diterapkanpada masyarakatdaerahjajahannyasepertibahasa,agama dan sistem hukum yang sebagian masih digunakan dalam sistem hukum/perundang-undnagan di negara Indonesia.

6) Hibridisasi, yaitu perubahan kebudayaan yang disebabkan oleh perkawinan campuranantara orang asing dengan penduduksetempat. Orang asing yang kawin dengan penduduk pribumi akan membawa pengaruh budaya aslinya dalam kehidupan rumah tangganya yang lambat laun akan mempengaruhi budaya masyarakat yang ada di sekitarnya.

7) Milenarisme, yaitu salah satu bentuk kebangkitan, yang berusaha mengangkat golongan masyarakat bawah yang tertindas dan telah lama menderita dalam kedudukan sosial yang rendah. Masyarakat pedalaman yang memiliki sumber daya alam yang melimpah namun selama ini tidak bisa mengolah sumber daya alam itu karena telah dieksploitasi orang asing, sekarang iniberusaha untuk bisa mengolah kekayaan alam mereka sendiri, seperti masyarakat Papua termasuk contoh Milenarisme

8) Adaptasi, yaitu proses interaksi antara perubahan yang ditimbulkan oleh organismepada lingkungannya danperubahan yang ditimbulkan oleh lingkunganpada organisme(penyesuaiandua arah). Masyarakat yang tinggal di daerah pantai dan sepanjang hidup mereka bekerja sebagai nelayan, mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi pegunungan ketika terjadi tsunami yang melanda daerah pantai mereka. Mereka tidak lagi mencari ikan, namun menjadi petani atau berkebun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

9) Imitasi, yaitu proses peniruan kebudayaan lain tanpa mengubah kebudayaan yang ditiru. Imitasi ini sering dijumpai pada sebagian besar anak remaja di negara kita. Jika ada tokoh yang mereka idolakan, segala hal yang melekat dari tokoh tersebut mereka tiru, seperti mode pakaian, gaya rambut, bahkan perilaku.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar