Kamis, 19 April 2012

Ciri-ciri masyarakat kota

Ada beberapa ciri lagi yang menonjol pada masyarakat kota, antara lain sebagai berikut.
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di desa. Ini disebabkan cara berpikir yang rasional, yang didasarkan pada perhitungan eksak y`ng berhubungan dengan realita masyarakat. Memang di kota-kota, orang juga ber- agama, akan tetap pada umumnya pusat kegiatan hanya tampak di tempat-tempat ibadat seperti gereja, masjid, dan sebagainya. Di luar itu, kehidupan masyarakat berada dalam lingkungan ekono- mi, perdagangan dan sebagainya. Cara kehidupan demikian mempunyai kecenderungan ke arah keduniawian (seculer trend), dibandingkan dengan kehidupan warga desa yang cenderung ke arah agama (religious trend).

2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain yang penting di sini adalah manusia perseorangan atau individu. Di desa orang lebih memen- tingkan kelompok atau keluarga. Di kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan karena perbedaan kepentingan, perbedaan paham politik, perbedaan agama dan seterusnya. Di kota individu kurang berani untuk seorang diri menghadapi orang- orang lain dengan lata belakang yang berbeda, pendidikan yang tak sama, kepentingan yang berbeda dan lain-lain. Nyata bahwa kebebasan yang diberikan kepada individu, tak dapat memberikan kebebasan yang sebenarnya kepada yang bersangkutan.

3. Pembagian kerja di antara warga kota juga lebih tegas dan punya batas-batas nyata. Di kota, tinggal orang-orang dengan aneka warna latar belakang sosial dan pendidikan yang menyebabkan individu memperdalami suatu bidang kehidupan khusus. Ini mela- hirkan suatu gejala bahwa warga kota tak mungkin hidup sendiri- an secara secara individualistis. Pasti akan dihadapinya per- soalan-persoalan hidup yang berada di luar jangkauan kemam- puan sendiri. Gejala demikian menimbulkan kelompok-kelompok kecil (small group) yang didasarkan pada pekerjaan yang sama, keahlian yang sama, kedudukan yang sosial yang sama dan lain- lain. Kesemuanya dalam batas-batas tertentu membentuk pemba- tasan-pembatasan di dalam pergaulan hidup. Misalnya seorang guru SLTA lebih banyak bergaul dengan rekannya sesama guru pula, daripada dengan pedagang kelontong. Seorang sarjana ekonomi akan lebih banyak bergaul dengan rekannya dengan latar belakang pendidikan yang sama ketimbang dengan sarjana- sarjana ilmu sejarah.

4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan, juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa karena sistem pembagian kerja yang tegas daripada faktor pribadi.

5. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan interaksi-interaksi yang terjadi lebih di dasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.

6. Jalan kehidupan yang cepat di kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.

7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, karena kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh luar. Hal ini sering menimbulkan pertentangan antara golongan tua dengan golongan muda, oleh karena golongan muda yang belum sepenuhnya terwujud kepribadiannya, lebih senang mengikuti pola- pola daru dalam kehidupan.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar