Selasa, 24 April 2012

Macam-macam diskusi


Sebelum menguraikan tentang pelaksanaan metode diskusi dalam proses belajar mengajar, lebih dahulu dikemukakan macam-macam atau jenis-jenis diskusi. Abu Ahmadi membagi diskusi dalam lima macam yaitu:
a. Diskusi formal Diskusi ini terdapat seperti pada lembaga-lembaga pemerintahan atau semi pemerintah, di mana dalam diskusi ini perlu adanya ketua dan penulis serta pembicara yang diatur secara formal. Misalnya diskusi- diskusi pada Sidang DPR.
b. Diskusi tidak formal (informal) Diskusi ini seperti dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar di mana satu sama lain bersifat “face to face relationship”.
c. Diskusi panel Diskusi ini menghadapi masalah yang ditinjau dari beberapa orang saja, yang dapat juga diikuti oleh banyak pendengar.
d. Diskusi dalam bentuk symposium Diskusi ini hampir sama dengan diskusi dalam bentuk panel, di sini symposium lebih formal. Symposium itu diselenggarakan apabila ada pertentangan pendapat. Ahli-ahli yang berbeda pendapat memberikan informasinya, selanjutnya diadakan diskusi antara pembicara dengan pendengar. Diskusi dalam bentuk symposium ini biasanya tidak mencari kebenaran tertentu.
e. Lecture discussion Diskusi ini dilaksanakan dengan memberikan suatu persoalan, kemudian didiskusikan. Di sini biasanya hanya satu pandangan atau persoalan saja.

Roestiyah NK membagi jenis diskusi dalam tujuh macam yaitu:
a. Whole-group. Suatu diskusi di mana anggota kelompok melaksanakan tidak lebih dari 15 (lima belas) orang.
b. Buze-group. Satu kelompok dibagi menjadi 2 (dua) sampai 8 (delapan) kelompok yang lebih kecil jika diperlukan kelompok kecil ini diminta melaporkan apa hasil diskusi itu pada kelompok besar.
c. Panel. Pada panel ini di mana satu kelompok kecil (antara 3 – 6 orang) mendiskusikan suatu objek tertentu, mereka duduk dalam susunan semi melingkar di hadapan pada satu kelompok besar peserta lainnya. Anggota kelompok besar ini dapat diundang untuk turut berpartisipasi. Yang duduk sebagai panelis adalah orang yang ahli dalam bidangnya.
d. Symposium. Teknik ini menyerupai panel, hanya sifatnya lebih formal. Seorang anggota symposium harus menyiapkan prasarana menurut pandangannya sendiri terlebih dahulu, kemudian dengan perbaikan aspek, dan sebuah aspek ini disoroti tersendiri. Tidak perlu disoroti dari berbagai pandangan. Pendengar biasanya diberikan kesempatan memajukan pandangan umum dan pertanyaan-pertanyaan, sesudah pembicaraan penyanggahan selesai. Orang yang diberi kesempatan ialah pembicara untuk mengadakan sambutan-sambutan balasan (replek). Dalam teknik peranan moderator tidaklah seaktif seperti pada panel. Ia lebih banyak mengkoordinir pembicaraan saja.
e. Caulogium. Teknik ini adalah cara berdiskusi yang dijalankan oleh satu atau beberapa orang manusia sumber yang berpendapat, menjawab, pertanyaan-pertanyaan tetapi tidak dalam bentuk pidato. Dapat juga bervariasi lain ialah seorang guru atau siswa atau mahasiswa menginterview seseorang manusia sumber, tentang pendapatnya mengenai suatu masalah, kemudian mengundang pertanyaan-pertanyaan tambahan dari para pendengar.
f. Informal-debate. Dalam diskusi ini dilaksanakan dengan membagi kelompok menjadi dua tim yang sama kuat dan jumlahnya agar seimbang. Kedua tim ini mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan dengan tidak menggunakan banyak peraturan, sehingga jalannya perdebatan lebih bebas. Isu yang diperdebatkan biasanya adalah masalah nilai, apakah itu nilai dalam masyarakat atau norma, nilai pergaulan, atau nilai yang berlaku di sekolah dan lain sebagainya.
g. Fish bowl. Dalam diskusi ini terdiri dari seorang moderator dan satu atau tiga orang sumber pendapat, mereka duduk dalam susunan semi lingkaran berderet dengan tiga kursi kosong menghadap kelompok. Kemudian moderator memberikan pengantar singkat dan diiukti dengan meminta kepada peserta dengan suka rela dari kelompok besar untuk menduduki kursi yang kosong ada di muka mereka. Peserta ini mengajukan pertanyaan atau mengadakan pembicaraan dengan manusia sumber pendapat. Selanjutnya moderator mengandung peserta yang lainnya dari anggota sidang untuk berpartisipasi.

Dengan melihat uraian di atas, tampak bahwa ada banyak macam atau jenis diskusi. Masing-masing jenis diskusi tersebut tentunya diterapkan sesuai dengan kondisi peserta diskusi serta sarana dan prasarana (fasilitas) yang dimiliki. Untuk kalangan pemuda, mahasiswa dan cendikiawan, biasanya diterapkan diskusi dalam bentuk panel, seminar dan symposium. Tetapi untuk para remaja atau siswa di sekolah di mana diskusi lebih banyak sebagai latihan bertukar pendapat, maka jenis diskusi yang diterapkan adalah sederhana saja, seperti diskusi informal atau diskusi dalam kelompok kecil, sehingga semua peserta dapat berperan aktif.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar