Sabtu, 07 April 2012

SEJARAH SEBAGAI PERISTIWA, KISAH, ILMU DAN SENI

SEJARAH SEBAGAI PERISTIWA, KISAH, ILMU DAN SENI

Sejarah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, sejarah dapat dilihat sebagai peristiwa, sebagai kisah, sebagai ilmu dan sebagai seni. Untuk dapat membedakannya perhatikan ilustrasi berikut :
  1. Sejarah sebagai peristiwa
Tidak semua peristiwa dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah, maka peristiwa tersebut harus merupakan rangkaian sebab akibat, merupakan hasil tindakan manusia dalam jangka waktu tertentu pada masa yang telah lalu dan dilakukan di tempat yang tertentu.
Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan sebuah peristiwa yang abadi, unik dan penting. Dikatakan abadi karena peristiwa sejarah sendiri hanya terjadi satu kali dan tidak terulang sama persis, dan penting karena peristiwa tersebut mempunyai arti penting dalam menentukan kehidupan  orang banyak.

  1. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah merupakan sebuah narasi yang disusun berdasarkan ingatan, kesan, atau tafsiran manusia tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi pada waktu yang lampau. Oleh karena itu, sejarah sebagai kisah dapat bersifat subyektif. Subyektivitas itu dapat muncul karena diceritakan oleh seseorang. Pengaruh kepribadian, emosi, kepentingan, nilai yang diperjuangkan kelompok sosial dimana ia berada, dan pengetahuan yang dimiliki dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi penuturan atau kisah yang ditulisnya.

Penulisan sejarah sebagai kisah misalnya, riwayat hidup tokoh tertentu, pengalamannya dalam suatu peristiwa sejarah, atau cerita tentang pelaku sejarah. Dalam penulisan biografi atau riwayat hidup, subyektivitas itu akan nampak. Seringkali tokoh yang ada di dalammya ingin menunjukan bahwa pribadinya  memiliki peristiwa penting dalam sejarah. Subyektivitas lain adalah muncul dari faktor nilai-nilai yang diperjuangkan misalnya, bila si penulis adalah seorang yang religius maka kisah yang ditulisnya akan didasarkan pada keyakinan yang penulis miliki.

  1. Sejarah sebagai ilmu
      Sebagai ilmu sejarah memiliki sejumlah masalah, bukti dan fakta yang memerlukan pembuktian ilmiah. Pembuktian secara ilmiah dilakukan melalui serangkaian penelitian dan hipotesa dengan menggunakan metode penelitian tertentu. Sejarah merupakan ilmu yang empiris, karena sejarah sangat tergantung pada pengalaman manusia.Pengalaman-pengalaman ini kemudian direkam dalam berbagai dokumen,dari dokumen-dokumen ini seorang sejarawan menemukan apa yang disebut sebagai fakta sejarah.Sebagai ilmu sejarah juga mengalami perkembangan, menurut Kuntowijoyo dalam bukunya pengantar ilmu sejarah mengatakan bahwa sejarah adalah ilmu tentang waktu, dalam dimensi waktu terjadi empat hal yaitu, perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan.
      Sejarah sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan hendaknya dibahas dan dibuktikan secara ilmiah, penggunaan metode ilmiah dapat menyadarkan para ahli sejarah  akan adanya kemungkinan kesalahan kesalahan dalam mengungkapkan sebuah peristiwa sejarah, untuk itu perlu alternatif lain agar dapat mengulangi atau memperkecil kesalahan ketika melakukan pembahasan peristiwa sejarah. Penggunaan metode ilmiah mengakibatkan sejarah semakin sulit untuk ditulisdan semakin kurang menarik untuk dibaca
  1. Sejarah sebagai seni
Sejarah sebagai seni, dikatakan demikian karena banyaknya fakta yang dikumpulkan maka dibutuhkan daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi bagi seorang sejarawan untuk menghubungkan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya untuk menjadi lebih bermakna. Sejarawan dituntut untuk dapat bersikap obyektif. Dia harus dapat melepaskan semua keinginan,keyakinan dan kepentingannya ketika melakukan seleksi dalam menafsirkan dan menjelaskan fakta-fakta sejarah.
Penulisan sejarah sebagai seni  memiliki beberapa kelemahan antara lain :
a.       Berkurangnya ketepatan (accuracy) dari obyektivitas tulisan sejarah, yang dimaksud ketepatan disini adalah kesesuaian antara sejarah denganfakta yang menjadi sumber tulisan sedangkan obyektivitas yang dimaksud adalah tidak adanya pandangan individual dalam penulisan sejarah. Dalam berimajinasi, seseorang dapat saja tidak tepat dalam menginterpretasikan (menafsirkan) fakta untuk ditulis, dapat saja dengan sengaja dia memasukan pandangan pribadinya ke dalam penulisan
b.      Penulisan sejarah akan terbatas pada obyek-obyek yang dapat dideskripsikan saja, misalnya tentang suatu peristiwa sejarah, biografi, masalah kebudayaan dari suatu masa, kemegahan suatu kerajaan. Namun tema lain, seperti sejarah ekonomi, sejarah kependudukan yang sering menyajikan data-data kuantitatif sering tidak dapat ditulis.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar