Kamis, 19 April 2012

Pengembangan Wilayah di Negara Maju dan Negara Berkembang

1. Pengembangan Wilayah di Negara Maju

Secara umum kota dan wilayah negara-negara maju menunjukkan keteraturan sehimngga menghasilkan kenyamanan, baik bagi penduduk setempat maupun pendatang. Keteraturan tersebut muncul karena negara maju mampu mengelola pertumbuhan dan perkembangan kota dan wilayah dengan baik. Kemampuan negara maju dalam mengelola pertumbuhan dan perkembangan wilayahnya karena dukungan beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi, sosial, teknologi, dan tingkat kesadaran masyarakat untuk mewujudkan keteraturan sangat tinggi.

Pengembangan wilayah kota dilakukan atas dasar desentralisasi kota, yaitu desentralisasi kota dari kota industri yang rapat menjadi kelompok permukiman kota. Setiap permukiman kota seluas 400 hektar yang dihuni oleh 30.000 penduduk, dan tiap permukiman kota dikelilingi oleh kawasan pertanian holtikultura sebagai jalur hijau dengan luas 2.000 hektar.

Sikander dan Malik dalam Jayadinata (1999) mengemukakan lima macam pola bentuk kota yang merupakan trend pengem- bangan wilayah di masa depan dan sudah dirintis di negara-negara maju, yaitu pola metropolis menyebar ( disapersed), metropolis galaktika, metropolis memusat, metropolis bintang, dan metropolis cincin.

a. Pola Metropolis menyebar terbentuk dengan mengembangkan bagian kota yang paling jarang penduduknya. Bagian kota yang padat penduduknya dibangun kembali dengan mengurangi kepadatan penduduk sehingga kota metropolis itu akan menyebar. Prasarana sosial ekonomi disebar ke kawasan yang baru, seperti kantor, rumah sakit, pabrik, dan universitas. Permasalahan pola ini terletak pada pilihan yang terbatas, interaksi yang lemah, biaya transportasi yang tinggi, dan citra kota metropolitan yang terkesan kurang hidup.
b. Metropolis galaktika terjadi dari permukiman kota yang kecil-kecil berpenduduk padat, dipisahkan oleh kawasan pertanian yang jarang sekali penduduknya atau bahkan tidak berpenduduk. Kegiatan sosial ekonomi terpusat di berbagai permukiman. Masalah yang muncul yaitu interaksi dan penekanan biaya agar tidak terlalu sukar untuk direalisasikan.
c. Metropolis terpusat terbentuk karena kegiatan sosial ekonomi yang tinggi dengan kepadatan penduduk yang tinggi pula, terutama di pusatnya. Oleh karena kegiatan sosial ekonomi yang tinggi, banyak penduduk yang tinggal di apartemen dan rumah susun. Masalah yang muncul yaitu biaya yang tinggi karena inti kota yang padat, kurang nyaman, dan kurang dalam mendukung partisipasi perorangan.
d. Metropolis bintang terbentuk karena mempunyai inti yang utama, dengan pola kepadatan penduduk membentuk bintang yang memanjang pada beberapa bagian kota. Inti kota utama, yaitu sebagian pusatkota di kelilingi oleh banyak pusat kadua yang terletak sepanjang lengan- lengan yang memanjang. Lengan-lengan kota itu mempunyai kepadatan penduduk yang sedang. Masalah yang muncul adalah bentuk fisik pola ini cepat berubah karena perkembangan penduduk.
e. Metropolis cincin terbentuk dengan kepadatan penduduk terletak di sekeliling tengah kota. Adapun daerah yang jarang penduduknya terletak di tengah kota. masalahnya adalah melahirkan biaya transportasi yang besar dan proses penyesuaian yang sangat sulit.

2. Pengembangan Wilayah di Negara Berkembang

Berbeda dengan negara maju yang mempunyai wilayah teratur, fenomena yang terjadi pada kota dan wilayah di negara-negara berkembang menunjukkan pola ketidakteraturan dan kesemrawutan sehingga terkesan kumuh, dan tidak sedap dipandang. Pembangunan di negara berkembang sebenarnya terus berjalan, tetapi hasil pembangunan terlalu lambat untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang semakin besar jumlahnya, sehingga yang terjadi hal-hal berikut ini.

a. Munculnya pemukiman-pemukiman kumuh yang dihuni masyarakat dengan tingkat pendapatan rendah. Munculnya pemukiman kumuh atau slum ini karena masyarakat tidak mampu membeli rumah yang harganya sangat mahal. Akibatnya adalah keindahan kota tidak terlihat.
b. Munculnya pusat-pusat kejahatan. Pusat-pusat kejahatan biasanya tersebar pada daerah yang padat, dan tidak tertata dengan baik.
c. Munculnya paradoks, dimana ada bangunan mentereng dengan gedung-gedung megah, tetapi di sisi lain menghasilkan pemukiman yang padat dan kumuh. Kesenjangan ini berupa munculnya wilayah dengan kemajuan tinggi, tetapi sisi lain ada wilayah mengalami stagnasi atau kemacetan. Kesenjangan ini muncul karena persebaran penduduk tidak merata yang menyebabkan proses pembangunan tidak merata antar wilayah. Menurut Jayadinata (1990), pada tahun 1970 penduduk perkotaan dunia yang tinggal di berbagai kota di negara- negara berkembang itu berjumlah 49% dan pada tahun 1985 menjadi 58%. Hal ini akan terus meningkat.
d. Munculnya wilayah-wilayah yang menampakkan sebagai kawasan yang seolah-olah tidak tersentuh proses pembangunan. Wilayah ini kita kenal sebagai daerah terisolir atau terpencil.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar