Minggu, 22 April 2012

Penyebab Terjadinya Kerusakan Alam



1. Pola pendekatan yang merusak
Kehidupan manusia yang mengageni perubahan yang berlangsung di bumi ini sebenarnya tidak harus berwujud pengrusakan bagi lingkungan, melainkan dapat juga berwujud engolahan, yang menjadikan bumi sebagai hunian yang semakin baik dan indah bagi kehidupan. Akan tetapi, manusia tidak secara konsisten memainkan peran seperti itu. Pola pendekatan manusia modern terhadap alam merupakan pendekatan teknokratis (dari kata Yunani tekne = keterampilan dan krattein = menguasai). Pendekatan ini mengedepankan penggunaan teknologi yang semakin canggih untuk menguras isi bumi dan menguasainya. Pendekatan teknokratis berangkat dari sikap yang hanya memandang alam sebagai sekadar sarana untuk memnuhi kebutuhan manusia. Alam dipandang sebagai tumpukan kekayaan dan energi, yang dapat dimanfaatkan oleh manusia seberapa dia sanggup mengalinya. Dengan kemampuan teknologi yang dia rancan semakin canggih, manusia dapat membongkar alam ini untuk mengambil apa saja yang dia perlukan, sedangkan yang tidak dia perlukan dibuang atau dibiarkan begitu saja.

2. Terkait bidang perekonomian modern
Berbagai masalah lingkungan yang didorong oleh penguasaan ilmu dan teknologi sangat terkait dengan bidang perekonomian modern yang berpolakan kapitalistik, dengan tujuan utama produksi untuk perolehan laba perusahaan. Hanya perusahaan yang memperoleh laba besar yang dapat bertahan dalam persaingan yang semakin bebas dan ketat. Dalam persaingan demikian biasanya perusahaan meningkatkan labanya dengan cara menekan biaya produksi serendah mungkin. Itu jugalah yang dilakukan oleh pengusaha ketika mengeksploitasi kekayaan alam. Dengan biaya serendah mungkin – yang dicurahkan hanya untuk bisa menggali kekayaan alam – maka usaha perbaikan dan pemulihan kembali keadaan alam, menjadi terabaikan. Yang dilakukan adalah sekedar mengambil apa yang perlu, lalu sesudah itu meninggalkannya begitu saja. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
Dengan adanya kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia bukan lagi hanya mengalami kemajuan di bidang pertanian, tetapi juga di berbagai bidang kehidupan lainnya. Dengan kemajuan yang dicapainya manusia mulai mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, sebagai alternatif di luar bidang pertania. Abad ke delapan belas dan sembilan belas merupakan awal terbentuknya masyarakat industri yang telah merintis suatu gerakan raksasa dalam penggunaan energi dengan penemuan cara menguraikan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas bumi. Dari penemuan-penemuan itu telah dihasilkan berbagai jenis produksi yang dimanfaatkan produksi yang dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan peningkatan taraf hidup manusia. Akan tetatpi, bersamaan dengan berbagai manfaat yang diperoleh dari kemajuan tersebut, telah terjadi serangkaian krisis lingkungan hidup, mulai dari yang berskala kecil hingga yang berskala besar.

3. Pertambahan penduduk yang semakin pesat
Jumlah penduduk dunia masih terus bertambah denga laju rata-rata sekitar 1,6 persen/ tahun atau sekitar 80 juta orang/ tahun. Mereka ini semua memerlukan tambahan produksi pangan , energi, rumah, dan kebutuhan hidup lain. Ironisnya sebagian besar pertambahan penduduk terjadi di negara-negara sedang berkembang dan negara miskin, yang tidak mampu unuk mendukung kehidupan mereka sendiri. Sebagai akibatnya, terjadilah kerusakan lingkungan yang semakin parah di negara miskin itu. Di banyak negara miskin, eksploitasi sumber daya alam semaksimal mungkin dikarenakan untuk menutup utang luar negerinya, misalnya hutan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan daging yang murah di amerika Serikat, beribu hektar hutan tropis di amerika latin di ubah menjadi daerah peternakan tanpa memperhatikan pencagaran tanah. Maka erosi beratpun terjadi7.

4. Paham antroposentrime
Hal yang juga dapat dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan akibat eksploitasi tak terkendali oleh ulah manusia adalah paham manusia sendiri tentang dirinya dalam berhadapan dengan alam.Paham antroposentrisme masih dipegang manusia. Demikian juga pemikiran dan moral lingkungan hidup tetap terpusatkan pada manusia (human centered ethic). Manusia menjadi jantung perhatian dalam pembahasan tentang lingkungan hidup. Hal yang menjadi pertimbangan utama adalah peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dalam alam semesta.

5. Pudarnya nilai-nilai tradisional
Cntoh kasus di Indonesia: Meskipun sering dikatakan bahwa masyarakat merusak linkungan, akan tetapi kesuburan sawah-sawah dan kelestarian hutan-hutan di Nusantara selama ribuan tahun pengolahan membuktikan bahwa nenek moyang kita menguasai seni menggunakan sambil memelihara. Masyarakat Dayak membakar hutan untuk membuka lahan baru, namun demikian mereka masih menggunakan cara-cara mencegah terjadinya musibah kebakaran hutan (memperhitungkan arah angin, memilih lokasi areal untuk dibakar dan sebagainya). Bencana terjadi karena nilai-nilai tradisional itu tidak terlihat pada para transmigran asal daerah lain yang membakar sebagian hutan tanpa perhitungan yang baik, sehingga kebakaran hutan tidak bisa dikuasai lagi.

7. Keterbatasan kemampuan bumi

Akibat dari semua kebijakan yang berpedoman pada kemajuan tekhnologi, ekonomi, dan produktivitas adalah terganggunya keseimbangan lingkungan hidup. Daya regenaerasi alam tidak dapat berkembang sewajarnya karena tidak mampu mengimbangi laju eksploitasi yang dilakukan oleh manusia. Demikian juga daya dukung bumi mengalami kejenuhan (ecological over stress) akibat terus menerus dikuras diluar batas kewajaran. Penggunaan sumber-sumber daya alam secara tak terkendali oleh negara-negara kaya dan adikuasa, yang mengandalkan teknologi nuklir, dan kimia, telah memberikan gambaran yang negatif terhadap masa depan manusia dan lingkungan hidup.

8. Desakan tuntutan kebutuhan hidup
Hal lain yang menyebabkan tindakan eksploitasi terhadap lingkungan yang tak terhindarkan adalah apabila manusia dihadapkan pada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang utama, untuk memenuhinya manusia akan memilih cara yang lebih mudah untuk dilakukan. Tuntutan hidup telah mengharuskan, misalnya membuka lahan tanpa harus mengedepankan pertimbangan lingkungan.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar