Rabu, 02 Mei 2012

Teori Perkembangan Remaja


Masa remaja dikenal sebagai masa mencari hakekat perkembangan identitas pribadi. Adapun aspek-aspek yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut:
1. Keluarga
Ada keterkaitan yang terus-menerus dengan orang tua ketika remaja bergerak menuju dan memperoleh otonomi. Pada dasawarsa terakhir, para ahli perkembangan mulai menjelajahi peran attachment yang kokoh (secure attachment), dan konsep-konsep terkait­ seperti attachment dengan orang tua dalam perkembangan remaja. Mereka yakin bahwa attachment dengan orang tua pada masa remaja dapat membantu kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial remaja, sebagaimana tercermin dalam ciri-ciri seperti harga diri, penyesuaian emosional, dan kesehatan fisik (Allen, dkk, 1994; Kobak & Cole, dalam siaran pers; Kobak, dkk, 1993; Onishi & Gjerde, 1994).

2. Teman sebaya (peer group)
Menurut Santrock, et.al (1995:44) peer group adalah sekumpulan remaja sebaya yang punya hubungan erat dan saling tergantung.
Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang yang di alami pada masa remaja. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group.

Populari­tas di antara teman-teman sebaya merupakan suatu motivasi yang kuat bagi kebanyakan anak-anak maupun para remaja. Kemajuan-kemajuan dalam perkembangan kognitif selama pertengahan dan akhir masa anak-anak dan remaja awal juga memungkinkan mereka mengambil perspektif teman-teman sebaya dan kawan-kawan mereka secara lebih cepat, dan pengetahuan sosial mereka tentang bagaimana menciptakan dan mempertahankan kawan meningkat.

Menurut Camarena, et.al. 1991 (Santrock, 1995:44) mengatakan bahwa konformitas dengan tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja dapat bersifat positif maupun negatif. Umumnya remaja terlibat dalam semua bentuk perilaku konformitas yang negatif. Akan tetapi banyak sekali konformitas teman sebaya yang tidak negatif dan terdiri atas keinginan untuk dilibatkan di dalam dunia teman se­baya, seperti berpakaian seperti teman-ternan dan keinginan untuk meluangkan waktu dengan anggota-anggota suatu klik.
Selama masa remaja, khususnya awal masa remaja, kita lebih mengikuti standar-standar teman sebaya daripada yang kita lakukan pada masa anak-anak: Para peneliti (Berndt, et.al. 1979) telah mene­mukan bahwa pada kelas delapan dan sembilan, konformitas dengan teman-ternan sebaya khususnya dengan standar­-standar antisosial mereka memuncak dan pada kelas 11 dan 12 remaja menunjukkan tanda-tanda berkembangnya gaya pengambilan keputusan yang lebih bebas dari pengaruh orang tua dan teman sebaya. (Santrock,2003:222)

Pada masa remaja, kemampuan berpikir kita mulai berkembang. Kita tidak lagi menelan mentah-mentah omongan orang tua. Kita mulai berpikir kritis, memperluas pergaulan, dan berpaling pada teman-teman sebaya yang mengerti gejolak emosi kita. Ketika teman-teman bisa menghargai dan menerima kita apa adanya, timbul rasa senang jika berada di antara mereka. Tidak heran apabila kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman daripada keluarga. Seperti yang dijelaskan oleh Hurlock (1980:213) karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman sebaya terhadap sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar pengaruhnya daripada pengaruh keluarga.

Pengertian peer pressure
“Peer Pressure” adalah tekanan sosial dari sebuah kelompok masyarakat, yang mengharuskan seseorang untuk bertindak dan berpikiran dengan cara tertentu, agar dia dapat diterima oleh kelompok masyarakat tersebut. Tekanan untuk mengikuti teman sebaya menjadi sangat kuat pada masa remaja (Santrock, 2003:221)

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar