Selasa, 24 April 2012

Pengertian Marah


Marah adalah emosi dasar yang dialami oleh semua manusia. Biasanya disebabkan oleh perasaan tidak senang yang terjadi karena merasa tersakiti, tidak dihargai, berbeda pandangan, atau ketika menghadapi halangan untuk mencapai tujuan.

Begitu banyaknya definisi tentang marah, berikut ini para ahli memaparkan definisi tentang marah : Emosi marah menurut Kuipers, dkk : 1989 (Ramadhani : 2008) merupakan suatu emosi yang didominasi kesiapan untuk beraksi. Dari penelitian yang mereka lakukan, disimpulkan bahwa ada dua unsur dalam emosi marah, yaitu unsur bergerak melawan atau moving against (kecenderungan untuk antagonis seperti menyerang atau beroposisi) dan boiling inwardly (mendidih di dalam). Spielberger (Yulianti, 2007 : 28) menyatakan bahwa marah adalah “ An emotional state that varies in intensity from mild irritation to intense fury and rage”. Kalimat tersebut diartikan sebagai pernyataan em osional yang intensitasnya beragam mulai dari kejengkelan ringan, kegeraman hingga mengamuk. Kartono (2000:21) mengartikan marah sebagai “reak si emosional terhadap kekecewaan, terluka, perlakuan campurtangan dan sebagainya yang dicirikan dengan ketidaksenangan dan permusuhan. Kemarahan dapat membangkitkan agresi dan disertai dengan berfungsinya sistem syaraf otomatis.”

Webster (en.wikipedia.org/wiki/Anger ) mendefinisikan marah sebagai ‘A strong passion or emotion of displeasure or antagonism, excited by a real or supposed injury or insult to one’s self or others, or by the intent to do such injury’. Kalimat tersebut dia rtikan sebagai suatu emosi atau nafsu pertentangan atau kejengkelan yang kuat, yang digairahkan oleh luka atau kerugian yang nyata maupun yang diharapkan atau menghina pada diri atau orang lain, atau bertujuan secara sengaja untuk membuat luka atau kerugian. Davidoff (Purwanto dan Mulyono, 2006:8) menyatakan bahwa ‘marah adalah suatu emosi yang mempunyai ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang disebabkan adanya kesalahan yang mungkin nyata salah atau mungkin pula tidak’ Marah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perilaku yang tidak diterima secara emosional dimana biasanya meledak-ledak, tidak terkendali atau bahkan sampai melakukan tindak kekerasan sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan sosial dari lingkungan disekitarnya.

Beberapa ahli mengemukakan pendapat yang berbeda tentang respon marah. Spielberger (Yulianti, 2007 : 29) menyatakan bahwa secara instinktif, cara alami untuk mengekspresikan kemarahan adalah merespon secara agresif. Spielberger mengemukakan tiga pendekatan utama yang dilakukan orang untuk menangani perasaan marahnya baik secara sadar ataupun tidak sadar yaitu :
a. Kemarahan diekspresikan, secara asertif bukan agresif, cara yang paling sehat dalam mengekspresikan kemarahan.
b. Kemarahan dapat ditekan, kemudian diganti atau dialihkan. Hal ini terjadi ketika kemarahan ditahan, berhenti memikirkannya, dan fokus pada sesuatu yang positif. Tujuannya adalah untuk menghalangi atau menekan kemarahan dan diganti dengan perilaku yang lebih konstruktif. Bahaya dari jenis ekspresi kemarahan ini adalah jika kemarahan tidak diekspresikan keluar, maka kemarahan akan berbalik ke dalam diri sendiri. Kemarahan yang berbalik pada diri sendiri akan mengakibatkan hipertensi, tekanan darah tinggi atau depresi. Kemarahan yang tidak dikeluarkan dapat menciptakan masalah lain yaitu mengarah pada ekspresi marah yang patologi, seperti perilaku pasif-agresif (melawan orang secara tidak langsung dibandingkan secara langsung, tanpa memberitahu alasannya) atau suatu kepribadian yang nampak terus menerus bermusuhan atau sinis.
c. Kemarahan dapat diredakan di dalam, artinya tidak hanya mengontrol perilaku luar tetapi juga mengontrol respon internal, mengambil langkah untuk memperlambat detak jantung, menenangkan diri, dan membiarkan perasaan itu surut.

Sumber: UPI  

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar