Minggu, 22 April 2012

Aspek-aspek Kemandirian


Steinberg (1999 : 289) mengemukakan tiga aspek kemandirian yaitu kemandirian emosi (emotional autonomy), kemandirian perilaku (behavioral autonomy), dan kemandirian nilai (values autonomy).

1. Kemandirian emosional (emotional autonomy)
Kemandirian emosional adalah seberapa besar ketidak bergantungan individu terhadap dukungan emosional orang lain, terutama orang tua dalam mengelola dirinya. Pemudaran hubungan emosional anak dengan orang tua pada masa remaja terjadi sangat cepat. Percepatan pemudaran hubungan itu terjadi seiring dengan semakin mandirinya remaja dalam mengurus diri sendiri. Proses ini secara tidak langsung memberikan peluang bagi remaja untuk mengembangkan kemandirian emosional. Proses psikososial lainnya yang menuntut remaja mengembangkan kemandirian emosional adalah perubahan pengungkapan kasih sayang, meningkatkan pendistribusian kewenangan dan tanggung jawab, menurunnya interaksi verbal dan kesempatan bertemu dengan orang tua, serta semakin larutnya remaja dalam pola-pola hubungan teman sebaya untuk menyelami hubungan kehidupan yang baru di luar keluarga. Menjelang akhir masa remaja ketergantungan emosional remaja terhadap orang tua menjadi semakin jauh berkurang menyusul semakin memuncaknya kemandirian emosional remaja. Meskipun demikian ikatan emosional remaja terhadap orang tua sesungguhnya tidak mungkin dapat diputuskan secara sempurna. Hal tersebut berdasarkan pada pernyataan Steinberg (1993) bahwa adolescent can become emotionally autonomous from their parents without becoming detached from them.

Individu yang memiliki kemandirian emosional adalah mereka yang tidak lagi mengidealkan orang tuanya (de-idealized), mampu memandang orang tua sebagaimana orang lain pada umumnya (parent as people), memiliki sikap nondependence (ketidakbergantungan) terhadap orang lain serta mampu menampilkan perilaku yang lebih bertanggung jawab dalam hubungan dengan orang tua (individuated).

Individu yang mampu memutuskan ikatan emosionalmya maka ia akan melakukan pemisahan diri dari keluarga (sparasi). Keberhasilan dalam melakukan sparasi ini merupakan dasar bagi pencapaian kemandirian terutama kemandirian yang bersifat independency. Dengan kata lain kemandirian yang pertama kali muncul pada diri individu adalah kemandirian yang bersifat independency, yaitu lepasnya ikatan-ikatan emosional sehingga ia dapat menentukan sesuatu tanpa harus selalu ada dukungan emosional dari orang tua. Oleh karenanya pada masa remaja terdapat pergerakan kemandirian yang dinamis dari ketidakmandirian pada masa kanak- kanak menuju pada kemandirian yang lebih bersifat autonomy. (Steinberg, 1993).

2. Kemandirian perilaku (behavioral autonomy)
Kemandirian perilaku merupakan kemampuan individu dalam menentukan pilihan dan mampu mengambil keputusan untuk pengelolaan dirinya. Ada tiga karakteristik remaja yang memiliki kemandirian perilaku, yaitu mampu mengambil keputusan, tidak terpengaruh oleh pihak lain dan memiliki rasa percaya diri (self-reliance). Peningkatan kemandirian perilaku (behavioral) sangat terlihat pesat pada usia remaja. Peningkatannya lebih pesat daripada peningkatan emosional. Ini terjadi karena didukung oleh perkembangan kognitif usia remaja semakin berkualitas. Perkembangan kognitif pada usia remaja ini, sehingga ia akan semakin berkembang dan mampu memandang ke masa depan, memperhitungkan resiko-resiko dan kemungkinan hasil-hasil dari alternatif pilihannya, dan mampu memandang bahwa nasehat seseorang bisa tercemar oleh kepentingan-kepentingan dirinya sendiri. Budiman, 2006). Ada tiga domain kemandirian perilaku (Steinberg, 1993) yaitu pertama, memiliki kemampuan mengambil keputusan yang ditandai oleh
(a) menyadari adanya resiko dari tingkah lakunya,
(b) memilih alternatif pemecahan masalah didasarkan atas pertimbangan sendiri dan orang lain, dan
(c) bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
Kedua, memiliki kekuatan terhadap pengaruh pihak lain yang ditandai oleh
(a) tidak mudah terpengaruh dalam situasi yang menuntut konformitas,
(b) tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orang tua dalam mengambil keputusan, dan
(c) memasuki kelompok sosial tanpa tekanan.
Ketiga, memiliki rasa percaya diri (self reliance) yang ditandai oleh
(a) merasa mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari,
(b) merasa mampu memenuhi tanggung jawab,
(c) merasa mampu mengatasi sendiri masalahnya,
(d) berani mengemukakan ide atau gagasan.

3. Kemandirian nilai (values autonomy)
Kemandirian nilai adalah kemampuan individu untuk menolak tekanan atau tuntutan orang lain yang berkaitan dengan keyakinan dalam bidang nilai. Dengan demikian individu memiliki seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting dalam memandang sesuatu dilihat dari sisi nilai. Terdapat tiga perubahan kemandirian nilai yang terjadi pada masa remaja (Steinberg, 1993) yaitu (1) keyakinan akan nilai-nilai semakin abstrak (abstrak belief). Perilaku yang dapat terlihat dari semakin abstraknya keyakinan akan nilai-nilai adalah mampu menimbang berbagai kemungkinan dalam bidang nilai. Misalnya individu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi ketika mengambil keputusan yang bermuatan moral. (2) keyakinan akan nilai –nilai s emakin bersifat prinsip (prinsiple belief).

Perilaku yang dapat terlihat pada keseharian individu seperti (a) berpikir sesuai dengan prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan dalam bidang nilai, (b) bertindak sesuai dengan prinsip yang dapat dipertanggung jawabkan dalam bidang nilai. (3) keyakinan akan nilai-nilai yang terbentuk dalam diri remaja bukan hanya dalam sistem nilai yang diberikan oleh orang tua atau orang dewasa lainnya tetapi lebih pada keyakinan yang dimilikinyan sendiri (independent belief).

Contoh perilakunya (a) individu memulai mengevaluasi kembali keyakinan dan nilai-nilai yang diterimanya dari orang lain, (b) berfikir sesuai dengan keyakinan dan nilainya sendiri, dan (c) bertingkah laku sesuai dengan keyakinan dan nilainya sendiri. Sebagian besar perkembangan kemandirian nilai dapat ditelusuri pada karakteristik perubahan kognitif (Budiman, 2006). Hal ini seiring dengan meningkatnya daya rasional dan semakin berkembangnya kemampuan hipotesis individu. Kemandirian nilai membawa perubahan-perubahan pada konsepsi-konsepsi individu tentang moral, politik, ideologi, dan persoalan-persoalan agama. (Steinberg, 1993).

Sumber: UPI  

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar