Kamis, 12 April 2012

Ekosistem Mangrove

Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut, (Kusmana, 2002)

Karakteristik :
       Secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah.
       Terdiri atas lingkungan biotic dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia.

Ekosistem Mangrove di Indonesia :

       Memiliki keanekaragaman jenis yang tertinggi di dunia, seluruhnya tercatat 89 jenis, antara lain: Bakau (Rhizophora. spp.), Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera   spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tenger (Ceriops spp) dan, Buta-buta  (Exoecaria spp.).
       Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera,  Kalimantan dan Papua.
       Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan :
            Tahun 1982 = 4,25 juta hektar
            Tahun 1987 = 3,24 juta hektar
            Tahun 1993  = 2,50 juta hektar

Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak, penebangan liar dan sebagainya (Dahuri, 2002).

Manfaat Ekosistem Mangrove :

Mangrove merupakan sumber daya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources atau flow resources) yang mempunyai manfaat ganda (manfaat ekonomis dan ekologis).

Manfaat ekonomis :
       Hasil berupa kayu (kayu bakar, arang, kayu konstruksi, dll.) dan
       Sebagai obyek wisata menarik

Manfaat ekologis :
       Sebagai proteksi dari abrasi/erosi, gelombang atau angin kencang
       Pengendali intrusi air laut
       Habitat berbagai jenis fauna
       Sebagai tempat mencari makan, memijah dan berkembang biak berbagai jenis ikan dan udang
       Pembangun lahan melalui proses sedimentasi
       Pengontrol penyakit malaria
       Memelihara kualitas air (meredukasi polutan, pencemar air)
       Penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi dibanding tipe hutan lain.

Mangrove mempunyai nilai produksi bersih (PPB) yang cukup tinggi, yakni:
       Biomassa (62,9 – 398,8 ton/ha),
       Guguran serasah (5,8 – 25,8 ton/ha/th),
Besarnya nilai produksi primer tersebut cukup berarti bagi penggerak rantai pangan kehidupan berbagai jenis organisme akuatik di pesisir dan kehidupan masyarakat pesisir.

Ekosistem mangrove juga merupakan perlindungan pantai secara alami untuk mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami.
Hasil penelitian yang dilakukan di Teluk Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur, menunjukkan bahwa dengan adanya ekosistem mangrove telah terjadi reduksi tinggi gelombang sebesar 0,7340, dan perubahan energi gelombang sebesar (E) = 19635.26 joule (Pratikto dkk., 2002).

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar